Isi formulir ini bagi Anda yang ingin menerbitkan buku di Kami |
Informasi mengenai biaya penerbitan ISBN resmi terdaftar di Perpusnas dan Internasional (mulai harga Rp300.000,-) |
Informasi untuk Anda yang ingin mengkonversi karya ilmiah menjadi sebuah buku referensi/monograf ber-ISBN (mulai harga Rp500.000,-) |
Informasi untuk Anda yang ingin membuat HaKI di Kami (mulai harga Rp350.000,-) |
Informasi untuk Anda yang ingin buku terbitannya terindeks di Google Books sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp100.000,-) |
Informasi untuk Anda yang memiliki artikel ilmiah (Jurnal, Buku, Skripsi, Tesis, & Disertasi dll), dan ingin ditambah sitasinya sehingga H-Index Google Scholar Anda naik (mulai harga Rp20.000,-) |
Informasi untuk Anda yang memiliki artikel bebas, opini, catatan akademik/kuliah, Skripsi, Tesis, Disertasi dll, dan ingin terindeks Google Scholar secara otomatis (tidak manual) sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp50.000,-) |
Hubungi narahubung Kami untuk pembelian buku-buku terbitan Kami |
Abstract
The Idrisid Dynasty (Daulah Idrisiyah) was one of the early Islamic dynasties established in the Maghrib al-Aqsha region (modern Morocco) at the end of the 2nd century AH, marking a significant milestone in the economic history of Islamic civilization in North Africa. This study aims to comprehensively examine the economic system of the Idrisid Dynasty, covering its historical background, monetary policy, state revenue sources, agricultural and trade sectors, as well as its legacy in the broader context of Islamic economics. Using a qualitative historical approach through literature review, this study finds that the Idrisid Dynasty successfully built an independent economic system based on control over mineral resources—particularly silver mines in the Atlas and Anti-Atlas Mountains—the development of trans-Saharan and Mediterranean trade routes, and the establishment of Fez as a major economic and cultural center. Numismatic evidence from lead isotope analysis confirms that the Idrisids operated active local mints using domestically sourced silver, reflecting significant economic sovereignty from the Abbasid Caliphate in Baghdad. The findings indicate that the Idrisid economic system was grounded in Islamic economic principles emphasizing justice and public welfare, while adapting to local Moroccan conditions. Despite its eventual decline due to political fragmentation and external pressures, the economic legacy of the Idrisid Dynasty remains significant in the history of Islamic civilization in North Africa.
Keywords: Idrisid Dynasty, Islamic Economic System, Monetary Policy, Trans-Saharan Trade, North Africa
Abstrak
Daulah Idrisiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang berdiri di wilayah Maghrib al-Aqsha (Maroko modern) pada akhir abad ke-2 Hijriah, menandai tonggak penting dalam sejarah perekonomian peradaban Islam di Afrika Utara. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara komprehensif sistem perekonomian Daulah Idrisiyah, meliputi latar belakang historis, kebijakan moneter, sumber-sumber pendapatan negara, sektor pertanian dan perdagangan, serta warisannya dalam konteks perekonomian Islam yang lebih luas. Dengan menggunakan pendekatan historis kualitatif melalui kajian pustaka, penelitian ini menemukan bahwa Daulah Idrisiyah berhasil membangun sistem ekonomi yang mandiri, didasarkan pada penguasaan sumber daya mineral khususnya tambang perak di pegunungan Atlas dan Anti-Atlas, pengembangan jalur perdagangan trans-Sahara dan Mediterania, serta pembangunan kota Fez sebagai pusat ekonomi dan budaya yang penting. Bukti numismatik dari analisis isotop timbal mengonfirmasi bahwa Daulah Idrisiyah mengoperasikan mint-mint lokal yang aktif menggunakan perak yang bersumber dari dalam negeri, mencerminkan kemandirian ekonomi yang signifikan dari kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Temuan menunjukkan bahwa sistem perekonomian Daulah Idrisiyah berlandaskan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang menekankan keadilan dan kesejahteraan rakyat, dengan adaptasi terhadap kondisi lokal Maroko. Meskipun akhirnya mengalami kemunduran akibat fragmentasi politik dan tekanan eksternal, warisan ekonomi Daulah Idrisiyah tetap signifikan dalam sejarah peradaban Islam di Afrika Utara.
Kata Kunci: Daulah Idrisiyah, Sistem Ekonomi Islam, Kebijakan Moneter, Perdagangan Trans-Sahara, Afrika Utara
1. Pendahuluan
Daulah Idrisiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang berdiri di wilayah Maghrib al-Aqsha (Maroko modern) pada akhir abad ke-2 Hijriah. Kemunculannya menandai babak baru dalam sejarah peradaban Islam di Afrika Utara, sekaligus menjadi salah satu dinasti pertama yang memisahkan diri dari kekuasaan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Dalam konteks sejarah perekonomian Islam, Daulah Idrisiyah hadir pada masa ketika sistem ekonomi Islam sedang mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di bawah naungan Daulah Abbasiyah yang menjadi pusat peradaban dunia Islam (Rafiq, 2022).
Kajian tentang sistem perekonomian Daulah Idrisiyah tidak dapat dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yakni dinamika perekonomian dunia Islam pada abad pertengahan, termasuk kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, dan pertanian yang menjadi pilar utama kehidupan ekonomi masyarakat Muslim pada masa itu.
Sebagaimana dicatat oleh para sejarawan, kemunculan dinasti-dinasti kecil di Afrika Utara, termasuk Daulah Idrisiyah, merupakan konsekuensi langsung dari melemahnya kekuasaan pusat Abbasiyah di Baghdad (Zamzam & Alawi, 2024). Daulah Idrisiyah berdiri pada tahun 173 H/788 M dan menjadi salah satu entitas politik Islam yang paling awal mencetak mata uang sendiri serta membangun infrastruktur ekonomi yang mandiri di wilayah Barat Islam (Fenwick, 2022).
Artikel ini akan mengkaji secara komprehensif sistem perekonomian Daulah Idrisiyah, meliputi latar belakang historis berdirinya dinasti, sumber-sumber pendapatan negara, kebijakan moneter, sektor pertanian dan perdagangan, serta relevansinya dalam konteks perekonomian Islam yang lebih luas.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan historis kualitatif dengan metode kajian pustaka (library research). Sumber-sumber yang digunakan meliputi artikel jurnal ilmiah bereputasi, buku-buku sejarah Islam, serta hasil penelitian arkeologis dan numismatik yang relevan dengan topik Daulah Idrisiyah dan perekonomian Islam abad pertengahan. Analisis dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menelaah, membandingkan, dan mensintesiskan berbagai sumber untuk membangun gambaran yang komprehensif tentang sistem perekonomian Daulah Idrisiyah. Pendekatan komparatif juga diterapkan untuk membandingkan sistem ekonomi Daulah Idrisiyah dengan dinasti-dinasti Islam kontemporer seperti Daulah Abbasiyah, Daulah Aghlabiyah, dan Daulah Fatimiyah.
3. Pembahasan
3.1 Latar Belakang Historis Berdirinya Daulah Idrisiyah
a. Konteks Politik dan Geografis
Daulah Idrisiyah lahir dalam konteks disintegrasi kekuasaan Abbasiyah di wilayah Afrika Utara. Menjelang akhir abad ke-2 Hijriah, kekuasaan Abbasiyah di Afrika Utara telah mengalami kemunduran yang signifikan, sehingga berbagai dinasti baru bermunculan untuk mengisi kekosongan kekuasaan tersebut (Fenwick, 2022). Sebagaimana dijelaskan oleh Fenwick, pada akhir abad ke-2 Hijriah, Afrika Utara telah lepas dari kekuasaan Abbasiyah, dan pada tahun 184/800 M, kekuasaan khalifah telah gagal sepenuhnya di Afrika Utara, sehingga Abbasiyah menyerahkan bahkan Ifriqiya kepada para vasalnya, yaitu Aghlabiyah, yang independen dalam segala hal kecuali nama (Fenwick, 2022).
Dalam konteks ini, Daulah Idrisiyah muncul sebagai salah satu negara Islam embrionik yang berdiri di dataran tinggi dan wilayah Maroko bagian barat. Bersama dengan Rustamiyah (160/776 M), Barghawata (158/744 M), dan Sufrites of Sijilmasa (140/758 M), Daulah Idrisiyah (173/788 M) membentuk konstelasi kekuatan politik baru di Afrika Utara yang tidak lagi tunduk kepada Baghdad (Anderson et al., 2018). Kemunculan dinasti-dinasti ini, menurut Anderson et al., mencerminkan dinamika pembentukan negara yang bervariasi tergantung pada kondisi lokal, di mana kadang-kadang, seperti pada kasus Idrisiyah di Maroko tengah, para pendatang dari dunia Islam Timur terlibat dalam proses pembentukan negara yang baru lahir ini (Anderson et al., 2018).
Secara geografis, Maroko yang menjadi basis kekuasaan Daulah Idrisiyah memiliki posisi strategis yang sangat penting. Sebagaimana dicatat oleh Oktaviyani, Maroko memiliki peran besar dalam sejarah penyebaran Islam di Afrika Utara dan sebagai pintu gerbang masuknya Islam ke Spanyol dan Eropa, dan pada awalnya Maroko dikuasai dinasti Idrisiyah (Oktaviyani, 2019). Posisi geografis ini memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi Daulah Idrisiyah, karena wilayahnya berada di persimpangan jalur perdagangan antara Afrika Sub-Sahara, Mediterania, dan Semenanjung Iberia.
b. Hubungan dengan Daulah Abbasiyah
Daulah Idrisiyah berdiri sebagai rival langsung terhadap kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Fenwick menegaskan bahwa Daulah Idrisiyah merupakan salah satu negara yang hampir sepenuhnya diabaikan oleh para sarjana yang bekerja tentang Abbasiyah dan gerakan penerus Alid (Fenwick, 2022). Hubungan antara Idrisiyah dan Abbasiyah bersifat antagonistis secara politik, namun dalam bidang ekonomi, Daulah Idrisiyah tetap terhubung dengan jaringan perdagangan internasional yang lebih luas yang juga melibatkan wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Abbasiyah.
Dalam konteks yang lebih luas, kemunculan Daulah Idrisiyah sebagai dinasti kecil yang memisahkan diri dari Abbasiyah juga disebutkan dalam literatur sejarah Islam. Zamzam dan Afabel mencatat bahwa di bagian barat wilayah Islam, terdapat Dinasti Idrisiyah (bermazhab Syiah Itsna 'Asyariyyah Imamiyah) sebagai salah satu dinasti kecil yang muncul pada masa kekuasaan Daulah Abbasiyah (Zamzam & Alawi, 2024). Sementara itu, Romli menyebutkan bahwa salah satu penyebab munculnya dinasti-dinasti baru di Afrika Utara adalah karena setiap pemberontakan dipimpin oleh pemimpin lokal yang berhasil mendirikan dinasti baru, seperti dinasti Idrisiyah di Maroko (Romli, 2022).
3.2 Sistem Moneter dan Kebijakan Keuangan Daulah Idrisiyah
a. Pencetakan Mata Uang sebagai Simbol Kedaulatan Ekonomi
Salah satu aspek paling signifikan dari sistem perekonomian Daulah Idrisiyah adalah kebijakan pencetakan mata uang sendiri. Hal ini merupakan pernyataan kedaulatan ekonomi yang sangat penting dalam konteks dunia Islam abad pertengahan. Sebagaimana dicatat oleh Merkel et al., produksi koin di Maroko berlanjut di mint-mint lokal, termasuk Tughda, setelah Daulah Idrisiyah mengambil alih kekuasaan pada tahun 789 M (Merkel et al., 2023). Namun, perubahan rezim politik ini berkorelasi dengan penurunan tajam dalam produksi mint Abbasiyah di al-'Abbasiya di Afrika Utara, yang mengindikasikan bahwa Daulah Idrisiyah berhasil mengambil alih kendali atas sumber-sumber perak di Afrika Utara dari tangan Abbasiyah (Merkel et al., 2023).
Analisis isotop timbal yang dilakukan oleh Merkel et al. terhadap dirham-dirham dari mint Afrika Utara, termasuk mint Tughda yang berada di bawah kendali Idrisiyah, menunjukkan bahwa perak yang digunakan untuk mencetak koin-koin tersebut bersumber dari Maroko, khususnya dari mineralisasi dengan usia geologis muda seperti Rif, Atlas, dan domain Anti-Atlas, termasuk Imiter dan Jebel Aouam di Maroko Tengah (Merkel et al., 2023). Temuan ini sangat penting karena mengungkapkan bahwa Daulah Idrisiyah memiliki akses langsung ke sumber-sumber perak lokal yang menjadi basis sistem moneter mereka.
Dalam konteks ekonomi Islam yang lebih luas, pencetakan mata uang sendiri oleh Daulah Idrisiyah mencerminkan prinsip yang telah diterapkan sejak masa Daulah Umayyah. Sebagaimana dicatat oleh Maulida dan Kurniawan, penerbitan mata uang tidak hanya bernilai untuk ekonomi, tetapi mata uang juga merupakan simbol kedaulatan dan kemandirian ekonomi negara Islam (Maulida & Kurniawan, 2022). Dengan mencetak mata uangnya sendiri, Daulah Idrisiyah menegaskan kemandirian ekonominya dari Baghdad dan membangun fondasi sistem keuangan yang otonom.
b. Sistem Dirham dan Dinar
Sistem moneter Daulah Idrisiyah mengikuti tradisi Islam yang menggunakan dinar emas dan dirham perak sebagai alat tukar utama. Penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang dalam perekonomian Islam telah berlangsung sejak masa Daulah Umayyah, ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan mencetak mata uang Islam yang memiliki model tersendiri pada tahun 78 H (Sari, 2016). Tradisi ini dilanjutkan oleh Daulah Abbasiyah dan kemudian diadopsi oleh dinasti-dinasti yang memisahkan diri, termasuk Daulah Idrisiyah.
Merkel et al. mencatat bahwa ekspansi negara Islam awal (sekitar 700-900 M) didukung oleh pencetakan koin perak (dirham) dalam skala yang sangat besar (Merkel et al., 2023). Daulah Idrisiyah, sebagai bagian dari dunia Islam yang lebih luas, juga berpartisipasi dalam sistem moneter berbasis perak ini. Bukti numismatik menunjukkan adanya boom pertambangan pada periode Abbasiyah yang juga berdampak pada wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Idrisiyah di Afrika Utara (Merkel et al., 2023).
Dalam perspektif ekonomi Islam, penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang memiliki signifikansi yang mendalam. Sebagaimana dijelaskan oleh Candrakusuma dan Santoso, Islam telah menentukan unit uang yang tetap dan standar dalam bentuk yang khas, yaitu emas dan perak (Candrakusuma & Santoso, 2021). Sistem moneter berbasis logam mulia ini memberikan stabilitas nilai tukar dan mencegah inflasi yang berlebihan, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
3.3 Sumber-Sumber Pendapatan Negara
a. Pajak dan Kharaj
Sebagaimana dinasti-dinasti Islam lainnya, Daulah Idrisiyah mengandalkan berbagai instrumen fiskal untuk membiayai operasional negara. Dalam tradisi ekonomi Islam, sumber-sumber pendapatan negara meliputi zakat, kharaj (pajak tanah), jizyah (pajak jiwa bagi non-Muslim), ghanimah (harta rampasan perang), dan berbagai bentuk pajak lainnya (Supriatna & Jubaedah, 2021). Daulah Idrisiyah, sebagai entitas politik Islam yang berdiri di wilayah dengan populasi Berber yang baru masuk Islam, menghadapi tantangan unik dalam pengelolaan sumber-sumber pendapatan ini.
Sistem kharaj, yang merupakan pajak atas hasil pertanian, menjadi salah satu sumber pendapatan utama bagi dinasti-dinasti Islam di Afrika Utara. Sebagaimana dijelaskan oleh Supriatna dan Jubaedah, kebijakan fiskal Islam mencakup instrumen-instrumen seperti zakat, ghanimah, kharaj, jizyah, waqf, dan lainnya, yang didistribusikan untuk kesejahteraan masyarakat (Supriatna & Jubaedah, 2021). Daulah Idrisiyah, dalam kapasitasnya sebagai negara Islam yang mandiri, menerapkan sistem fiskal yang serupa dengan yang berlaku di dunia Islam pada umumnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Anderson et al. mencatat bahwa Daulah Idrisiyah, seperti halnya para rival mereka di pinggiran pegunungan dan Sahara Ifriqiya, membenarkan kedaulatan mereka dalam kerangka Muslim dan ekonomi, sosial, dan politik baru (Anderson et al., 2018). Hal ini mengindikasikan bahwa legitimasi ekonomi Daulah Idrisiyah dibangun di atas fondasi prinsip-prinsip ekonomi Islam yang sama dengan yang berlaku di seluruh dunia Islam.
b. Perdagangan dan Bea Cukai
Posisi geografis Maroko yang strategis menjadikan perdagangan sebagai salah satu sumber pendapatan utama Daulah Idrisiyah. Wilayah Maroko berada di persimpangan jalur perdagangan trans-Sahara yang menghubungkan Afrika Sub-Sahara dengan Mediterania, serta jalur perdagangan maritim yang menghubungkan Atlantik dengan Mediterania. Toral-Niehoff mencatat bahwa secara ekonomi, Maghrib telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan transregional (perdagangan budak) dan akhirnya menjadi bagian dari dunia Islam yang terhubung secara global (Toral‐Niehoff, 2022).
Bukti numismatik menunjukkan adanya boom ekonomi di Afrika Utara sebagai hasil dari perdagangan budak, yang juga melibatkan wilayah-wilayah di bawah kekuasaan Idrisiyah (Toral‐Niehoff, 2022). Selain perdagangan budak, Daulah Idrisiyah juga terlibat dalam perdagangan emas, perak, dan berbagai komoditas lainnya yang mengalir melalui jalur-jalur perdagangan trans-Sahara.
Dalam konteks yang lebih luas, Toral-Niehoff juga mencatat bahwa pada akhir kampanye penaklukan, garis pantai utara Maghrib Barat telah diubah menjadi perpanjangan wilayah Umayyah Barat, yang memberi mereka kendali atas perdagangan antara Semenanjung Iberia dan pedalaman Afrika Utara (Toral‐Niehoff, 2022). Warisan infrastruktur perdagangan ini kemudian dimanfaatkan oleh Daulah Idrisiyah untuk mengembangkan sistem perdagangan mereka sendiri.
c. Pertambangan Perak dan Emas
Salah satu sumber kekayaan terpenting Daulah Idrisiyah adalah pertambangan logam mulia, khususnya perak dari pegunungan Atlas dan Anti-Atlas di Maroko. Merkel et al. telah membuktikan melalui analisis isotop timbal bahwa perak yang digunakan untuk mencetak dirham di mint-mint Afrika Utara, termasuk yang berada di bawah kendali Idrisiyah, bersumber dari tambang-tambang di Maroko, termasuk Imiter dan Jebel Aouam di Maroko Tengah, di mana terdapat bukti arkeologis dan dokumenter untuk penambangan pra-Islam dan abad pertengahan (Merkel et al., 2023).
Kontrol atas sumber-sumber perak ini memberikan Daulah Idrisiyah keunggulan ekonomi yang signifikan. Merkel et al. juga mencatat bahwa perubahan rezim politik ketika Daulah Idrisiyah mengambil alih Maroko pada tahun 789 M berkorelasi dengan penurunan tajam dalam produksi mint Abbasiyah di al-'Abbasiya, yang mengindikasikan bahwa Idrisiyah berhasil memutus akses Abbasiyah ke sumber-sumber perak Afrika Utara (Merkel et al., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan atas sumber daya mineral merupakan salah satu faktor kunci dalam kemandirian ekonomi Daulah Idrisiyah.
Dalam konteks yang lebih luas, pertambangan emas juga menjadi sumber kekayaan penting bagi dinasti-dinasti Islam di Afrika. Sebagaimana dicatat oleh Ridwanto dan Siradjuddin dalam konteks Daulah Abbasiyah, emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah (Ridwanto & Siradjuddin, 2023). Daulah Idrisiyah, yang berada di jalur perdagangan emas trans-Sahara, juga mendapat manfaat dari aliran emas yang berasal dari Afrika Sub-Sahara.
3.4 Sektor Pertanian
a. Kondisi Pertanian di Wilayah Idrisiyah
Pertanian merupakan salah satu pilar utama perekonomian Daulah Idrisiyah. Wilayah Maroko yang menjadi basis kekuasaan Idrisiyah memiliki kondisi geografis yang beragam, mulai dari dataran pantai yang subur hingga pegunungan Atlas yang kaya akan sumber air. Kondisi ini mendukung pengembangan berbagai jenis pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.
Dalam konteks perekonomian Islam secara umum, pertanian selalu mendapat perhatian khusus dari para penguasa Muslim. Sebagaimana dicatat oleh Sulaiman dalam konteks Daulah Abbasiyah, perkembangan dan kemajuan ekonomi pertanian mendatangkan kontribusi yang cukup besar bagi keuangan negara, dan dinasti Abbasiyah telah memberikan keringanan-keringanan kepada petani (Sulaiman, 2021). Prinsip yang sama kemungkinan besar juga diterapkan oleh Daulah Idrisiyah dalam mengelola sektor pertanian di wilayah mereka.
Sistem irigasi merupakan komponen penting dalam pengembangan pertanian di wilayah Idrisiyah. Dalam tradisi Islam, pembangunan infrastruktur irigasi merupakan salah satu bentuk investasi publik yang paling penting. Sebagaimana dicatat oleh Dieke dalam konteks Daulah Abbasiyah, pemerintah melakukan pembangunan infrastruktur, perbaikan irigasi, dan pembiayaan riset ilmiah untuk meningkatkan sektor-sektor ekonomi (Dieke, 2023). Daulah Idrisiyah, sebagai dinasti Islam yang mengikuti tradisi yang sama, kemungkinan besar juga menerapkan kebijakan serupa dalam pengembangan infrastruktur pertanian.
b. Komoditas Pertanian Utama
Wilayah Maroko yang menjadi basis Daulah Idrisiyah dikenal menghasilkan berbagai komoditas pertanian yang penting. Dalam konteks yang lebih luas, Toral-Niehoff mencatat bahwa Maghrib telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan transregional yang melibatkan berbagai komoditas (Toral‐Niehoff, 2022). Komoditas pertanian dari wilayah Idrisiyah kemungkinan besar meliputi gandum, jelai, zaitun, kurma, dan berbagai produk pertanian lainnya yang menjadi andalan pertanian Mediterania.
Dalam konteks perekonomian Islam secara umum, As-Syaibani, seorang pemikir ekonomi Islam pada masa Daulah Abbasiyah, menyebutkan bahwa berbagai jenis komoditas yang ditanam terdiri atas gandum, padi, kurma, wijen, kapas, dan rami (Gurdachi & Afabel, 2021). Komoditas-komoditas serupa kemungkinan besar juga dihasilkan di wilayah Idrisiyah, meskipun dengan variasi yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan tanah setempat.
3.5 Perdagangan dan Jaringan Ekonomi
a. Jalur Perdagangan Trans-Sahara
Salah satu keunggulan ekonomi terbesar Daulah Idrisiyah adalah posisinya yang strategis di jalur perdagangan trans-Sahara. Jalur perdagangan ini menghubungkan Afrika Sub-Sahara yang kaya akan emas, gading, dan budak dengan wilayah Mediterania yang menjadi pusat peradaban Islam dan Eropa. Toral-Niehoff mencatat bahwa secara ekonomi, Maghrib telah menjadi bagian dari jaringan perdagangan transregional (perdagangan budak) dan akhirnya menjadi bagian dari dunia Islam yang berbagi praktik hukum, doktrin agama, dan elit akademis yang terhubung secara global (Toral‐Niehoff, 2022).
Perdagangan trans-Sahara membawa berbagai komoditas berharga ke wilayah Idrisiyah, termasuk emas dari Ghana dan Mali, gading dari Afrika Tengah, serta berbagai produk pertanian dan kerajinan. Sebagai imbalan, wilayah Idrisiyah mengekspor produk-produk manufaktur, tekstil, dan berbagai barang kebutuhan lainnya ke Afrika Sub-Sahara. Jaringan perdagangan ini menjadi salah satu sumber kekayaan utama Daulah Idrisiyah dan mendukung perkembangan kota-kota perdagangan di wilayah mereka.
b. Perdagangan dengan Andalusia dan Mediterania
Selain jalur trans-Sahara, Daulah Idrisiyah juga terlibat aktif dalam perdagangan dengan Andalusia (Spanyol Islam) dan wilayah-wilayah Mediterania lainnya. Toral-Niehoff mencatat bahwa pada akhir kampanye penaklukan, garis pantai utara Maghrib Barat telah diubah menjadi perpanjangan wilayah Umayyad Barat, yang memberi mereka kendali atas perdagangan antara Semenanjung Iberia dan pedalaman Afrika Utara (Toral‐Niehoff, 2022). Warisan infrastruktur perdagangan ini kemudian dimanfaatkan oleh Daulah Idrisiyah untuk mengembangkan hubungan dagang dengan Andalusia.
Hubungan perdagangan antara Maroko dan Andalusia sangat erat, mengingat kedekatan geografis kedua wilayah tersebut. Dalam konteks yang lebih luas, Munawaroh et al. mencatat bahwa Islam pertama kali masuk ke Eropa melalui jalur Afrika Utara, Maghreb (Maroko)-Andalusia (Spanyol) (Munawaroh et al., 2022). Jalur yang sama juga menjadi jalur perdagangan yang aktif antara Daulah Idrisiyah dan Daulah Umayyah di Andalusia.
c. Perdagangan Emas dan Perak
Perdagangan logam mulia merupakan salah satu aspek terpenting dari sistem ekonomi Daulah Idrisiyah. Merkel et al. telah membuktikan bahwa wilayah Maroko merupakan sumber perak yang penting bagi sistem moneter Islam pada periode awal (Merkel et al., 2023). Selain perak, emas yang mengalir dari Afrika Sub-Sahara melalui jalur trans-Sahara juga menjadi komoditas perdagangan yang sangat penting.
Dalam konteks yang lebih luas, Ridwanto dan Siradjuddin mencatat bahwa emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat melambungkan perekonomian Abbasiyah, dan perdagangan dengan wilayah-wilayah lain merupakan hal yang sangat penting (Ridwanto & Siradjuddin, 2023). Daulah Idrisiyah, yang berada di jalur perdagangan emas trans-Sahara, juga mendapat manfaat besar dari aliran emas ini. Kontrol atas jalur perdagangan emas ini menjadi salah satu faktor kunci dalam kemakmuran ekonomi Daulah Idrisiyah.
3.6 Pembangunan Kota dan Infrastruktur Ekonomi
a. Pendirian Kota Fez sebagai Pusat Ekonomi
Salah satu kontribusi terbesar Daulah Idrisiyah terhadap perekonomian wilayah Maroko adalah pendirian kota Fez (Fes) oleh Idris I dan kemudian dikembangkan oleh Idris II. Kota Fez menjadi pusat ekonomi, politik, dan budaya yang penting di Afrika Utara. Fenwick mencatat bahwa beberapa studi modern telah membuat kemajuan signifikan dalam mengeksplorasi hubungan antara pembentukan negara dan urbanisasi di Maroko, mint Idrisiyah dan ekonomi, serta arkeologi kota-kota Idrisiyah (Fenwick, 2022).
Pembangunan kota sebagai pusat ekonomi merupakan tradisi yang umum dalam peradaban Islam. Sebagaimana dicatat oleh Saefuloh et al. dalam konteks Daulah Abbasiyah, kota Baghdad menjadi kota peradaban yang terkenal di dunia, dan kemajuan perdagangan dan industri yang pesat terjadi di kota-kota besar (Saefuloh et al., 2022). Kota Fez yang dibangun oleh Daulah Idrisiyah memainkan peran serupa sebagai pusat peradaban dan ekonomi di wilayah Maghrib.
Kota Fez berkembang menjadi pusat perdagangan yang ramai, dengan pasar-pasar yang menjual berbagai komoditas dari seluruh penjuru dunia Islam. Sebagaimana dicatat oleh Aref, Daulah Idrisiyah di Maroko Jauh (172 AH/788 AD) bersamaan dengan negara Rustumid di Maroko tengah (164 AH/781 AD) dan negara Aghlabiyah di Afrika (184 AH/800 AD), sehingga periode gubernur yang mengikuti negara Abbasiyah berakhir (Aref, 2017). Dalam konteks ini, kota Fez menjadi alternatif pusat ekonomi yang bersaing dengan kota-kota besar di bawah kekuasaan Abbasiyah.
b. Infrastruktur Perdagangan
Daulah Idrisiyah juga membangun berbagai infrastruktur yang mendukung kegiatan perdagangan, termasuk jalan-jalan kafilah, pasar-pasar, dan fasilitas penginapan bagi para pedagang. Dalam tradisi ekonomi Islam, pembangunan infrastruktur perdagangan merupakan salah satu kewajiban negara untuk mendukung kesejahteraan rakyat. Sebagaimana dicatat oleh Saefuloh et al., pada masa Daulah Abbasiyah, Al-Mansur menata perekonomian pemerintahannya dengan memajukan pelabuhan Baghdad, karena letak kota Baghdad yang berada di samping sungai Tigris memudahkan berkembangnya perdagangan dan aktivitas ekspor-impor (Saefuloh et al., 2022).
Daulah Idrisiyah, dengan posisi geografisnya yang strategis di persimpangan jalur perdagangan trans-Sahara dan Mediterania, juga membangun infrastruktur yang mendukung kegiatan perdagangan ini. Pembangunan kota Fez sebagai pusat perdagangan merupakan salah satu manifestasi dari kebijakan pembangunan infrastruktur ekonomi yang diterapkan oleh Daulah Idrisiyah.
3.7 Kebijakan Fiskal dan Pengelolaan Keuangan Negara
a. Baitul Mal dan Pengelolaan Keuangan Publik
Sebagaimana dinasti-dinasti Islam lainnya, Daulah Idrisiyah kemungkinan besar memiliki lembaga Baitul Mal sebagai institusi pengelola keuangan negara. Dalam tradisi ekonomi Islam, Baitul Mal merupakan lembaga atau institusi negara sebagai tempat dan pengelolaan dana umat dari pengumpulan sumber pendapatan hingga pengalokasian belanja negara sesuai dengan kaidah Islam (Arifin, 2020). Lembaga ini menjadi instrumen utama dalam pengelolaan keuangan publik dan distribusi kekayaan negara.
Dalam konteks yang lebih luas, Supriatna dan Jubaedah mencatat bahwa kebijakan fiskal Islam mencakup instrumen-instrumen seperti zakat, ghanimah, kharaj, jizyah, waqf, dan lainnya, yang didistribusikan untuk kesejahteraan masyarakat (Supriatna & Jubaedah, 2021). Daulah Idrisiyah, sebagai negara Islam yang mandiri, menerapkan sistem fiskal yang serupa, meskipun dengan adaptasi yang disesuaikan dengan kondisi lokal di Maroko.
b. Zakat sebagai Instrumen Fiskal
Zakat merupakan salah satu instrumen fiskal terpenting dalam sistem ekonomi Islam. Sebagaimana dijelaskan oleh Syahputra, zakat membantu dalam perekonomian umat, dan memaksa orang kaya untuk mengeluarkan sebagian hartanya; zakat merupakan ketentuan wajib dalam sistem ekonomi (obligatory zakat system), sehingga pelaksanaannya dilakukan melalui institusi resmi negara yang memiliki ketentuan hukum sehingga pengumpulan, pengelolaan, atau pendistribusiannya bisa terarah (Syahputra, 2019). Daulah Idrisiyah, sebagai negara Islam, juga menerapkan sistem zakat sebagai instrumen redistribusi kekayaan dan pembiayaan layanan publik.
Dalam konteks yang lebih luas, Muflihin mencatat bahwa pada masa-masa pemerintahan dinasti-dinasti Islam, sumber-sumber pemasukan negara berasal dari zakat, ghanimah atau harta rampasan perang, dan pajak penghasilan pertanian (Muflihin, 2020). Daulah Idrisiyah, sebagai bagian dari tradisi ekonomi Islam yang lebih luas, juga mengandalkan sumber-sumber pendapatan yang serupa untuk membiayai operasional negara.
c. Kebijakan Pajak
Kebijakan pajak Daulah Idrisiyah mencerminkan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang menekankan keadilan dan proporsionalitas dalam pemungutan pajak. Dalam tradisi ekonomi Islam, pajak harus dipungut sesuai dengan kemampuan wajib pajak dan digunakan secara adil untuk kepentingan publik. Sebagaimana dicatat oleh Jirhanuddin dalam konteks pemikiran Ibnu Khaldun, ketika beban pajak lebih ringan, masyarakat memiliki insentif untuk berusaha lebih aktif, sehingga dunia usaha menjadi lebih maju dan kepuasan masyarakat meningkat (Jirhanuddin, 2017).
Prinsip ini kemungkinan besar juga diterapkan oleh Daulah Idrisiyah dalam kebijakan pajaknya. Sebagai dinasti yang baru berdiri dan membutuhkan dukungan rakyat untuk mempertahankan kekuasaannya, Daulah Idrisiyah memiliki insentif untuk menerapkan kebijakan pajak yang tidak memberatkan rakyat, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan basis pajak secara keseluruhan.
3.8 Industri dan Kerajinan
a. Industri Tekstil dan Kerajinan
Wilayah Maroko yang menjadi basis Daulah Idrisiyah dikenal dengan tradisi kerajinan yang kaya, termasuk industri tekstil, keramik, dan berbagai kerajinan tangan lainnya. Dalam konteks perekonomian Islam secara umum, industri merupakan salah satu sektor ekonomi yang penting. Sebagaimana dicatat oleh Saefuloh et al. dalam konteks Daulah Abbasiyah, Dinasti Abbasiyah mementingkan perindustrian dan menyerukan kepada rakyat untuk membangun industri (Saefuloh et al., 2022).
Daulah Idrisiyah, sebagai dinasti Islam yang mengikuti tradisi yang sama, juga mendorong pengembangan industri di wilayah mereka. Kota Fez yang menjadi pusat kekuasaan Idrisiyah berkembang menjadi pusat industri kerajinan yang penting, menghasilkan berbagai produk yang diperdagangkan ke seluruh penjuru dunia Islam.
b. Industri Pertambangan
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pertambangan logam mulia merupakan salah satu industri terpenting di wilayah Idrisiyah. Merkel et al. telah membuktikan bahwa tambang-tambang perak di Maroko, termasuk Imiter dan Jebel Aouam, aktif beroperasi pada periode Idrisiyah (Merkel et al., 2023). Industri pertambangan ini tidak hanya menyediakan bahan baku untuk pencetakan mata uang, tetapi juga menghasilkan berbagai produk logam yang diperdagangkan ke seluruh wilayah Islam.
Dalam konteks yang lebih luas, Daulay et al. mencatat bahwa pada masa Al-Mahdi dari Daulah Abbasiyah, perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil penambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi (Daulay et al., 2023). Daulah Idrisiyah, dengan kekayaan mineral yang dimilikinya, juga mengembangkan industri pertambangan sebagai salah satu pilar ekonominya.
3.9 Pemikiran Ekonomi dan Kebijakan Pembangunan
a. Landasan Ideologis Ekonomi Idrisiyah
Sistem perekonomian Daulah Idrisiyah dilandasi oleh prinsip-prinsip ekonomi Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah. Sebagaimana dicatat oleh Huda, perkembangan ekonomi Islam pada masa dinasti-dinasti Islam merupakan kebijakan ekonomi yang dibentuk berdasarkan ijtihad para fuqaha dan ulama sebagai konsekuensi semakin jauhnya rentang waktu antara zaman kehidupan Rasulullah dan masa pemerintahan tersebut (Huda, 2021). Daulah Idrisiyah, sebagai dinasti yang mengklaim keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ali bin Abi Thalib, memiliki legitimasi religius yang kuat untuk menerapkan prinsip-prinsip ekonomi Islam.
Dalam konteks yang lebih luas, Ridwanto dan Siradjuddin mencatat bahwa Daulah Abbasiyah memegang kuat suatu falsafah untuk mewujudkan adanya masyarakat yang merata dan berkemakmuran, oleh karenanya pembangunan ekonomi diserahkan kepada orang-orang yang terdidik dan para ahli di bidang ekonomi (Ridwanto & Siradjuddin, 2023). Prinsip yang sama kemungkinan besar juga dianut oleh Daulah Idrisiyah dalam pengelolaan ekonominya.
b. Peran Ulama dalam Kebijakan Ekonomi
Dalam tradisi ekonomi Islam, para ulama dan fuqaha memainkan peran penting dalam merumuskan kebijakan ekonomi. Sebagaimana dicatat oleh Ridwanto dan Siradjuddin, dalam masa Daulah Abbasiyah terjadi regulasi keuangan negara yang tidak dibuat atau dilakukan oleh khalifah sebagai kepala negara/pemerintah, tetapi dilakukan oleh para ahli hukum (fuqaha) (Ridwanto & Siradjuddin, 2023). Daulah Idrisiyah, yang berdiri di wilayah yang kemudian menjadi basis kuat mazhab Maliki, juga mengandalkan para ulama dalam merumuskan kebijakan ekonominya.
Toral-Niehoff mencatat bahwa pengaruh yang semakin besar dari para sarjana dan praktik Maliki mempersiapkan lahan bagi adopsi mazhab hukum Maliki dan marginalisasi bentuk-bentuk Islam lokal di Maghrib (Toral‐Niehoff, 2022). Dominasi mazhab Maliki di wilayah Idrisiyah memiliki implikasi penting bagi kebijakan ekonomi, karena mazhab ini memiliki pandangan-pandangan spesifik tentang berbagai aspek ekonomi, termasuk perdagangan, pajak, dan distribusi kekayaan.
3.10 Kemunduran dan Faktor-Faktor Ekonomi
a. Fragmentasi Politik dan Dampak Ekonominya
Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran Daulah Idrisiyah adalah fragmentasi politik yang terjadi setelah kematian Idris II. Aref mencatat bahwa ketika Idris II mulai membagi negara Idrisiyah di antara saudara-saudaranya sebagai warisan, mereka berperang memperebutkan kekuasaan yang menyebabkan kelemahan negara, dan juga membantu invasi Meroite Andalusia dan Fatimiyah untuk mengambil alih (Aref, 2017). Fragmentasi politik ini memiliki dampak yang sangat negatif terhadap perekonomian, karena mengganggu stabilitas yang diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi.
Dalam konteks yang lebih luas, Zamzam dan Afabel mencatat bahwa keruntuhan Daulah Abbasiyah dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari beberapa faktor, di antaranya pembebanan pajak dan pengaturan wilayah provinsi-provinsi demi keuntungan kelas penguasa yang telah menghancurkan bidang pertanian dan industri, serta para penguasa yang semakin kaya sementara rakyat justru semakin miskin (Zamzam & Alawi, 2024). Pola yang serupa kemungkinan besar juga terjadi pada Daulah Idrisiyah ketika negara mulai terfragmentasi.
b. Tekanan dari Kekuatan Eksternal
Daulah Idrisiyah juga menghadapi tekanan dari kekuatan-kekuatan eksternal yang mengancam kelangsungan ekonominya. Toral-Niehoff mencatat bahwa Umayyah dan Fatimiyah menggunakan wilayah Maghrib untuk bertempur dalam pertempuran mereka, dan konflik antara kekuatan makro-regional yang bersaing ini memaksa imamat-imamat Berber untuk meningkatkan ketergantungan mereka pada Umayyah Barat di Al-Andalus (Toral‐Niehoff, 2022). Tekanan dari kekuatan-kekuatan eksternal ini mengganggu stabilitas ekonomi Daulah Idrisiyah dan menguras sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan ekonomi.
Dalam konteks yang lebih luas, Romli mencatat bahwa hampir semua wilayah di Afrika Utara terlepas dari kekuasaan dinasti Abbasiyah sampai akhir abad ke-8 Masehi, dan kelemahan kekuasaan politik Khalifah Abbasiyah ini telah memunculkan dinasti-dinasti baru yang menguasai Afrika Utara (Romli, 2022). Namun, kemunculan dinasti-dinasti baru ini juga menciptakan persaingan ekonomi yang ketat di antara mereka, yang pada akhirnya melemahkan masing-masing dinasti.
3.11 Perbandingan dengan Sistem Ekonomi Dinasti-Dinasti Kontemporer
a. Perbandingan dengan Daulah Abbasiyah
Sistem perekonomian Daulah Idrisiyah dapat dibandingkan dengan sistem perekonomian Daulah Abbasiyah yang menjadi kekuatan dominan di dunia Islam pada masa yang sama. Daulah Abbasiyah, yang berpusat di Baghdad, mengembangkan sistem ekonomi yang sangat maju dengan berbagai sektor yang saling mendukung, termasuk pertanian, perdagangan, industri, dan pertambangan (Dieke, 2023; Saefuloh et al., 2022; Sulaiman, 2021). Daulah Idrisiyah, meskipun lebih kecil dan lebih terbatas dalam jangkauannya, juga mengembangkan sistem ekonomi yang serupa, meskipun dengan skala yang lebih kecil dan fokus yang lebih lokal.
Perbedaan utama antara sistem ekonomi Daulah Idrisiyah dan Daulah Abbasiyah terletak pada skala dan kompleksitasnya. Daulah Abbasiyah, dengan wilayah yang jauh lebih luas dan populasi yang jauh lebih besar, mengembangkan sistem ekonomi yang jauh lebih kompleks, termasuk sistem perbankan yang canggih dengan para ahli bankir yang disebut naqid, sarraf, dan jihbiz (Ridwanto & Siradjuddin, 2023). Daulah Idrisiyah, sebagai dinasti yang lebih kecil dan lebih muda, belum mencapai tingkat kompleksitas ekonomi yang sama.
b. Perbandingan dengan Daulah Aghlabiyah
Daulah Aghlabiyah, yang berdiri hampir bersamaan dengan Daulah Idrisiyah di Ifriqiya (Tunisia modern), merupakan rival langsung Idrisiyah di Afrika Utara. Anderson et al. mencatat bahwa seperti para khalifah Abbasiyah, para amir Aghlabiyah mencetak dinar emas, menunjuk pejabat mereka sendiri, dan membangun kota-kota kerajaan baru untuk menampung diri mereka dan rombongan mereka (Anderson et al., 2018). Daulah Idrisiyah juga melakukan hal yang serupa, mencetak mata uang sendiri dan membangun kota-kota baru sebagai pusat kekuasaan dan ekonomi.
Perbedaan utama antara Idrisiyah dan Aghlabiyah terletak pada orientasi ekonomi mereka. Aghlabiyah, yang berada di Ifriqiya, lebih berorientasi ke Mediterania dan memiliki hubungan yang lebih erat dengan dunia perdagangan Mediterania. Sementara itu, Idrisiyah, yang berada di Maroko, lebih berorientasi ke jalur perdagangan trans-Sahara dan Atlantik, meskipun juga memiliki hubungan dengan Mediterania dan Andalusia.
c. Perbandingan dengan Daulah Fatimiyah
Daulah Fatimiyah, yang kemudian muncul sebagai kekuatan dominan di Afrika Utara dan Mesir, memiliki sistem ekonomi yang jauh lebih maju dibandingkan Daulah Idrisiyah. Zamzam dan Aravik mencatat bahwa perekonomian Islam pada masa Dinasti Fatimiyah mengalami kemajuan pada masa khalifah al-Mu'izz, al-'Aziz, dan al-Hakim, dengan beberapa faktor yang melatarbelakanginya seperti perpindahan pusat pemerintahan dari Tunisia ke Kairo, penggalian sumber pemasukan ekonomi dalam segala bidang, dan pengelolaan bidang-bidang pertanian, perdagangan, dan industri secara terpadu (F. Zamzam & Aravik, 2019). Daulah Idrisiyah, yang mendahului Fatimiyah, belum mencapai tingkat integrasi ekonomi yang sama.
3.12 Warisan Ekonomi Daulah Idrisiyah
a. Kontribusi terhadap Perkembangan Ekonomi Maroko
Warisan ekonomi Daulah Idrisiyah terhadap perkembangan Maroko sangat signifikan. Pendirian kota Fez sebagai pusat ekonomi dan budaya menjadi fondasi bagi perkembangan ekonomi Maroko selanjutnya. Kota Fez berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan dan kerajinan terpenting di Afrika Utara, dan warisan ini terus berlanjut hingga masa-masa berikutnya.
Fenwick mencatat bahwa beberapa studi modern telah membuat kemajuan signifikan dalam mengeksplorasi hubungan antara pembentukan negara dan urbanisasi di Maroko, mint Idrisiyah dan ekonomi, serta arkeologi kota-kota Idrisiyah (Fenwick, 2022). Hal ini menunjukkan bahwa warisan ekonomi Daulah Idrisiyah masih terus menjadi objek kajian akademis yang penting.
b. Kontribusi terhadap Jaringan Perdagangan Islam
Daulah Idrisiyah juga memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan jaringan perdagangan Islam di Afrika Utara dan Barat. Dengan menguasai jalur perdagangan trans-Sahara dan membangun infrastruktur perdagangan di wilayah Maroko, Daulah Idrisiyah membantu mengintegrasikan Afrika Sub-Sahara ke dalam jaringan perdagangan Islam yang lebih luas.
Toral-Niehoff mencatat bahwa Maghrib akhirnya menjadi bagian dari dunia Islam yang berbagi praktik hukum, doktrin agama, dan elit akademis yang terhubung secara global (Toral‐Niehoff, 2022). Daulah Idrisiyah memainkan peran penting dalam proses integrasi ini, dengan membangun institusi-institusi ekonomi dan hukum yang menghubungkan Maroko dengan dunia Islam yang lebih luas.
c. Pengaruh terhadap Seni dan Arsitektur Ekonomi
Warisan seni dan arsitektur Daulah Idrisiyah juga memiliki dimensi ekonomi yang penting. Aref mencatat bahwa seni Idrisiyah Maroko Jauh memainkan peran dalam memperkaya seni dekoratif plester di wilayah-wilayah lain, menunjukkan adanya pertukaran budaya dan ekonomi yang aktif antara Maroko dan wilayah-wilayah lain di dunia Islam (Aref, 2017). Pertukaran budaya ini juga mencerminkan pertukaran ekonomi yang aktif, karena seni dan kerajinan merupakan komoditas perdagangan yang penting dalam perekonomian Islam abad pertengahan.
4. Kesimpulan
Sistem perekonomian Daulah Idrisiyah merupakan cerminan dari tradisi ekonomi Islam yang lebih luas, yang dikembangkan dalam konteks geografis dan historis yang unik di wilayah Maroko. Sebagai salah satu dinasti Islam pertama yang memisahkan diri dari kekuasaan Abbasiyah, Daulah Idrisiyah berhasil membangun sistem ekonomi yang mandiri, yang didasarkan pada penguasaan sumber daya mineral, pengembangan jalur perdagangan trans-Sahara dan Mediterania, serta pembangunan kota-kota sebagai pusat ekonomi dan budaya.
Bukti numismatik yang dikumpulkan oleh Merkel et al. menunjukkan bahwa Daulah Idrisiyah memiliki sistem moneter yang aktif, dengan mint-mint lokal yang mencetak dirham dari perak yang bersumber dari tambang-tambang di Maroko (Merkel et al., 2023). Hal ini mencerminkan kemandirian ekonomi yang signifikan dari Baghdad dan kemampuan Daulah Idrisiyah untuk mengelola sumber daya ekonominya sendiri.
Dalam konteks yang lebih luas, sistem perekonomian Daulah Idrisiyah mencerminkan prinsip-prinsip ekonomi Islam yang menekankan keadilan, kesejahteraan rakyat, dan pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab (Dieke, 2023; Supriatna & Jubaedah, 2021). Meskipun Daulah Idrisiyah akhirnya mengalami kemunduran akibat fragmentasi politik dan tekanan dari kekuatan-kekuatan eksternal, warisan ekonominya tetap signifikan dalam sejarah peradaban Islam di Afrika Utara.
Kajian tentang sistem perekonomian Daulah Idrisiyah memberikan wawasan yang berharga tentang bagaimana prinsip-prinsip ekonomi Islam diterapkan dalam konteks yang berbeda-beda, dan bagaimana dinasti-dinasti Islam yang lebih kecil berhasil membangun sistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan di luar pusat kekuasaan Abbasiyah. Warisan ini relevan tidak hanya bagi sejarah ekonomi Islam, tetapi juga bagi pemahaman kita tentang dinamika pembentukan negara dan pengembangan ekonomi dalam konteks Islam abad pertengahan.
Daftar Pustaka
Anderson, G. D., Fenwick, C. G., & Rosser-Owen, M. (2018). The Aghlabids and Their Neighbors: An Introduction. 1–30. https://doi.org/10.1163/9789004356047_002
Aref, E. A. (2017). The Far Morocco Idrisid Arts and their role in enriching the plaster wall processing in the southwest Saudi Arabian kingdom in the century (14th AH/ 20th AD). Archive-Sr, 1(1), 13. https://doi.org/10.21625/archive.v1i1.137
Arifin, N. R. (2020). Manajemen wakaf sebagai pembiayaan barang publik dan barang publik campuran di Indonesia. Ar-Ribhu: Jurnal Manajemen dan Keuangan Syariah, 1(2), 246–264. https://doi.org/10.55210/arribhu.v1i2.504
Candrakusuma, M., & Santoso, A. D. (2021). Tinjauan komprehensif konsep uang Taqiyuddin An-Nabhani. MJSE, 1(1), 20–33. https://doi.org/10.24269/mjse.v1i1.3852
Daulay, H. P., Dahlan, Z., & Putri, Y. A. (2023). Peradaban dan pemikiran Islam pada masa Bani Abbasiyah. Edu Society: Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial dan Pengabdian Kepada Masyarakat, 1(2), 228–244. https://doi.org/10.56832/edu.v1i2.63
Dieke, D. H. K. (2023). Sistem ekonomi Islam pada masa Bani Abbasiyah dan potensinya dalam ekonomi masa kini. Nirwasita: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sosial, 4(2), 117–126. https://doi.org/10.59672/nirwasita.v4i2.2938
Fenwick, C. G. (2022). How to found an Islamic state: The Idrisids as rivals to the Abbasid Caliphate in the Far Islamic West. 91–116. https://doi.org/10.1163/9789004525245_006
Gurdachi, A., & Afabel, H. (2021). Dampak pemikiran As-Syaibani bagi pembangunan perekonomian Dinasti Abbasiyah (750-804 M). El Tarikh: Journal of History Culture and Islamic Civilization, 2(1), 11–23. https://doi.org/10.24042/jhcc.v2i1.7759
Huda, M. N. (2021). Sejarah pemikiran ekonomi Islam pada masa Daulah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Estoria: Journal of Social Science and Humanities, 1(2), 135–148. https://doi.org/10.30998/je.v1i1.466
Jirhanuddin, J. (2017). Konsep pengelolaan pajak yang adil perspektif Ibnu Khaldun. Jurnal Al-Qardh, 1(2). https://doi.org/10.23971/jaq.v1i2.631
Maulida, S., & Kurniawan, R. R. (2022). Pemikiran ekonomi Islam pada masa Daulah Umayyah. https://doi.org/10.31219/osf.io/j3myw
Merkel, S., Oravisjärvi, J., & Kershaw, J. (2023). Sources of early Islamic silver: Lead isotope analysis of dirhams. Antiquity, 97(396), 1564–1580. https://doi.org/10.15184/aqy.2023.165
Muflihin, M. D. (2020). Perekonomian di masa Dinasti Umayyah: Sebuah kajian moneter dan fiskal. Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE), 3(1), 58–69. https://doi.org/10.31538/iijse.v3i1.462
Munawaroh, A., Fathurohim, F., & Sangadah, U. (2022). Kemajuan peradaban Islam di Spanyol dan pengaruhnya terhadap renaissance Eropa. At-Thariq: Jurnal Studi Islam dan Budaya, 2(01). https://doi.org/10.57210/trq.v2i01.99
Oktaviyani, V. E. (2019). Islam di Afrika Utara. JUSPI: Jurnal Sejarah Peradaban Islam, 3(1), 1. https://doi.org/10.30829/juspi.v3i1.1733
Rafiq, M. (2022). Strategi dakwah pada masa Dinasti Abbasiyah (pendekatan komunikasi politik, sosial budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan). Hikmah, 16(1), 145–162. https://doi.org/10.24952/hik.v16i1.5826
Ridwanto, R., & Siradjuddin, S. (2023). Pemikiran ekonomi Islam masa Daulah Abbasiyah. Journal of Economics and Business UBS, 12(5), 2859–2872. https://doi.org/10.52644/joeb.v12i5.516
Romli, H. (2022). Peradaban Islam di Afrika Utara masa Dinasti Murabithun, Muwahidun dan Fatimiyah. Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam, 10(2). https://doi.org/10.24235/tamaddun.v10i2.11742
Saefuloh, I., Lestari, L., & Solihin, D. (2022). Peradaban ekonomi pada masa Dinasti Abbasiyah. Jurnal Pelita Nusa, 2(1), 21–31. https://doi.org/10.61612/jpn.v2i1.27
Sari, S. W. (2016). Perkembangan dan pemikiran uang dari masa ke masa. An-Nisbah: Jurnal Ekonomi Syariah, 3(1), 39–58. https://doi.org/10.21274/an.2016.3.1.39-58
Sulaiman, S. (2021). Sistem ekonomi Dinasti Abbasiyah: Tinjauan historis pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mansur 95 H-159 H/714 M-775 M. Muamalatuna, 13(1), 84. https://doi.org/10.37035/mua.v13i1.4653
Supriatna, S., & Jubaedah, D. (2021). Kebijakan fiskal masa Al-Khilafah Al-Islamiyah. Asy-Syari'ah, 22(2), 291–312. https://doi.org/10.15575/as.v22i2.9116
Syahputra, R. (2019). Analisis pemikiran Ahmad Ibn Nasr Al-Daudi (w. 402H/1011 M) tentang keuangan publik studi kitab Al-Amwal. Ecobisma: Jurnal Ekonomi Bisnis dan Manajemen, 5(1), 29–41. https://doi.org/10.36987/ecobi.v5i1.72
Toral‐Niehoff, I. (2022). The Umayyad dynasty and the western Maghreb: A transregional perspective. Medieval Worlds, 16, 93–107. https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no16_2022s93
Zamzam, F., & Aravik, H. (2019). Perekonomian Islam pada masa Dinasti Fatimiyah. Mizan: Journal of Islamic Law, 3(1), 99. https://doi.org/10.32507/mizan.v3i1.432
Zamzam, R., & Alawi, S. A. (2024). Sistem pemerintahan desentralisasi. Shaf: Jurnal Sejarah Pemikiran dan Tasawuf, 1(2), 1–12. https://doi.org/10.59548/js.v1i2.119


0 Komentar