Islamologics



 Formulir Data Penulis Buku

Isi formulir ini bagi Anda yang ingin menerbitkan buku di Kami 

 Layanan Penerbitan ISBN Buku

Informasi mengenai biaya penerbitan ISBN resmi terdaftar di Perpusnas dan Internasional (mulai harga Rp300.000,-)

 Layanan Konversi Hasil Penelitian, PkM, Skripsi, Tesis, & Disertasi menjadi Buku

Informasi untuk Anda yang ingin mengkonversi karya ilmiah menjadi sebuah buku referensi/monograf ber-ISBN (mulai harga Rp500.000,-)

 Layanan Pengurusan HaKI Karya Ilmiah

Informasi untuk Anda yang ingin membuat HaKI di Kami (mulai harga Rp350.000,-)

 Layanan Indeksasi Google Play Books

Informasi untuk Anda yang ingin buku terbitannya terindeks di Google Books sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp100.000,-)

 Layanan Penambahan Sitasi Artikel di Google Scholar

Informasi untuk Anda yang memiliki artikel ilmiah (Jurnal, Buku, Skripsi, Tesis, & Disertasi dll), dan ingin ditambah sitasinya sehingga H-Index Google Scholar Anda naik (mulai harga Rp20.000,-)

 Layanan Indeksasi Artikel Bebas, Opini, Catatan Akademik di Google Scholar

Informasi untuk Anda yang memiliki artikel bebas, opini, catatan akademik/kuliah, Skripsi, Tesis, Disertasi dll, dan ingin terindeks Google Scholar secara otomatis (tidak manual) sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp50.000,-)

 Hubungi Kami: Klik Disini (Nindi)

Hubungi narahubung Kami untuk pembelian buku-buku terbitan Kami

Abstract

The Aghlabid Dynasty (800–909 CE) represents one of the most economically significant Islamic political entities in the Western Mediterranean during the 9th century. Ruling over Ifriqiya — a region encompassing modern Tunisia, western Libya, and parts of eastern Algeria — the Aghlabids developed a sophisticated and multidimensional economic system that formed the backbone of regional prosperity. Despite maintaining nominal suzerainty under the Abbasid Caliphate, the Aghlabid amirs exercised de facto economic autonomy, minting their own gold dinars, managing independent fiscal revenues, and building palatial cities as centers of commercial and administrative activity. This article comprehensively examines the pillars of the Aghlabid economy, including its fiscal and monetary structures, maritime and trans-Saharan trade networks, agricultural productivity, craft industries — particularly glazed ceramic production — urban infrastructure investments, and intellectual economy. The study draws on recent archaeological, numismatic, and textual scholarship to reconstruct the economic landscape of Aghlabid Ifriqiya and assess its lasting legacy on subsequent dynasties and the broader Mediterranean world. The findings demonstrate that the Aghlabid economic model, characterized by strategic infrastructure investment, technological innovation, and effective integration into wider Islamic and Mediterranean trade networks, produced a period of remarkable prosperity whose material and institutional foundations outlasted the dynasty itself.




Keywords: Aghlabid Dynasty, Ifriqiya, Islamic Economy, Mediterranean Trade, Trans-Saharan Trade, Monetary Policy, Glazed Ceramics, Kairouan




Abstrak

Daulah Aghlabiyah (800–909 M) merupakan salah satu entitas politik Islam yang paling signifikan secara ekonomi di kawasan Mediterania Barat pada abad ke-9. Dengan menguasai wilayah Ifriqiya — yang mencakup Tunisia modern, Libya barat, dan sebagian Aljazair timur — para amir Aghlabiyah mengembangkan sistem perekonomian yang canggih dan multidimensi sebagai tulang punggung kemakmuran regional. Meskipun secara nominal tetap mengakui kedaulatan Kekhalifahan Abbasiyah, para amir Aghlabiyah menjalankan otonomi ekonomi secara de facto: mencetak dinar emas sendiri, mengelola pendapatan fiskal secara mandiri, serta membangun kota-kota palatial sebagai pusat kegiatan komersial dan administratif. Artikel ini mengkaji secara komprehensif pilar-pilar perekonomian Aghlabiyah, meliputi struktur fiskal dan moneter, jaringan perdagangan maritim dan trans-Sahara, produktivitas pertanian, industri kerajinan — terutama produksi keramik berlapis — investasi infrastruktur perkotaan, serta ekonomi pengetahuan. Kajian ini memanfaatkan temuan-temuan arkeologi, numismatik, dan tekstual terkini untuk merekonstruksi lanskap ekonomi Ifriqiya Aghlabiyah dan menilai warisannya bagi dinasti-dinasti penerus serta dunia Mediterania yang lebih luas. Temuan penelitian menunjukkan bahwa model ekonomi Aghlabiyah — yang ditandai oleh investasi infrastruktur yang strategis, inovasi teknologi, dan integrasi yang efektif ke dalam jaringan perdagangan Islam dan Mediterania — menghasilkan periode kemakmuran yang luar biasa, dengan fondasi material dan institusional yang bertahan jauh melampaui masa kejatuhan dinasti itu sendiri.




Kata Kunci: Daulah Aghlabiyah, Ifriqiya, Ekonomi Islam, Perdagangan Mediterania, Perdagangan Trans-Sahara, Kebijakan Moneter, Keramik Berlapis, Kairouan







1. Pendahuluan: Latar Belakang Daulah Aghlabiyah

Daulah Aghlabiyah merupakan salah satu entitas politik Islam yang paling signifikan di kawasan Mediterania Barat pada abad ke-9 Masehi. Dinasti ini memerintah wilayah Ifriqiya — yang secara geografis mencakup Tunisia modern, Libya barat, dan sebagian Aljazair timur — sejak tahun 800 hingga 909 M (Anderson et al., 2018). Berdirinya dinasti ini tidak dapat dipisahkan dari konteks politik Kekhalifahan Abbasiyah yang semakin melemah cengkeramannya atas wilayah-wilayah barat. Pada tahun 184 H/800 M, pemerintahan Ifriqiya secara resmi diserahkan oleh Khalifah Harun al-Rasyid kepada Ibrahim ibn al-Aghlab, meskipun secara nominal wilayah ini tetap mengakui kedaulatan Baghdad (Kennedy, 2018). Dalam kenyataannya, para amir Aghlabiyah memerintah secara independen dalam hampir semua aspek pemerintahan, termasuk dalam bidang ekonomi dan keuangan (Anderson et al., 2018).

Keberadaan Daulah Aghlabiyah dalam sejarah Islam sering digambarkan sebagai sebuah "zaman keemasan" (golden age) bagi kawasan Ifriqiya. Sejarawan Georges Marçais secara terkenal menyebut abad panjang Aghlabiyah sebagai masa keemasan, di mana Ifriqiya abad ke-9 dikenal karena produktivitas pertaniannya, kekayaan sumber daya alam seperti emas, garam, dan logam mulia, serta keahlian kerajinan tangannya, yang semuanya menopang sebuah ledakan ekonomi yang luar biasa (Anderson et al., 2018). Pemahaman yang komprehensif tentang sistem perekonomian masa Aghlabiyah memerlukan kajian terhadap berbagai dimensi, mulai dari struktur fiskal dan moneter, perdagangan maritim dan darat, sektor pertanian, industri kerajinan, hingga jaringan perdagangan trans-Sahara dan hubungan ekonomi dengan dunia Mediterania yang lebih luas.




2. Struktur Politik-Ekonomi dan Hubungannya dengan Kekhalifahan Abbasiyah

2.1 Otonomi Ekonomi De Facto

Meskipun para amir Aghlabiyah tidak pernah berhenti mengakui kedaulatan Baghdad secara formal, mereka pada hakikatnya merdeka dalam segala hal kecuali nama (Anderson et al., 2018). Salah satu indikator paling jelas dari otonomi ekonomi ini adalah hak mencetak mata uang. Seperti halnya para khalifah Abbasiyah, para amir Aghlabiyah mencetak dinar emas mereka sendiri, menunjuk pejabat-pejabat mereka sendiri, dan membangun kota-kota kerajaan baru untuk menampung diri mereka dan rombongan mereka — Abbasiyya pada tahun 800 M, yang kemudian digantikan oleh Raqqada pada tahun 876 M (Anderson et al., 2018). Pembangunan kota-kota palatial ini bukan sekadar ekspresi kekuasaan politik, melainkan juga merupakan pusat-pusat ekonomi yang penting, di mana produksi kerajinan, administrasi fiskal, dan distribusi kekayaan berlangsung (Moreno, 2015).

Hubungan fiskal antara Aghlabiyah dan Abbasiyah bersifat unik. Para amir Aghlabiyah membayar upeti tahunan kepada khalifah Abbasiyah di Baghdad, namun mereka memiliki otonomi penuh dalam mengelola pendapatan internal Ifriqiya (Azmeh, 2016). Kekhalifahan Abbasiyah tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan politik Aghlabiyah, dan terdapat alasan-alasan politik lokal yang menjelaskan mengapa, misalnya, nama khalifah Abbasiyah — bukan nama amir Aghlabiyah — yang tertulis dalam teks fondasi masjid Zaytuna di Tunis (Anderson et al., 2018). Ini menunjukkan bahwa hubungan antara kedua entitas lebih bersifat simbolis dan legitimatif daripada substantif dalam hal pengelolaan ekonomi.




2.2 Pendapatan Negara dan Sistem Fiskal

Sistem fiskal Aghlabiyah merupakan warisan dari tradisi administrasi Islam yang lebih luas, yang mencakup berbagai sumber pendapatan. Ifriqiya di bawah Aghlabiyah dikenal memiliki produktivitas pertanian yang tinggi, dan pajak atas hasil pertanian merupakan salah satu sumber pendapatan utama negara (Anderson et al., 2018). Selain itu, perdagangan yang berkembang pesat — baik perdagangan maritim maupun darat — menghasilkan pendapatan bea cukai yang signifikan bagi pemerintah (Bosanquet, 2022).

Perlu dicatat bahwa pada akhir abad ke-8, mint-mint di Afrika Utara memproduksi seperempat dari seluruh mata uang perak Kekhalifahan Islam (Merkel et al., 2023). Fakta ini menunjukkan betapa pentingnya peran ekonomi Ifriqiya dalam sistem keuangan Abbasiyah yang lebih luas, dan sekaligus menjelaskan mengapa wilayah ini menjadi begitu berharga bagi Baghdad. Keberadaan mint-mint aktif di Kairouan dan al-Abbasiyya sejak akhir tahun 760-an menunjukkan adanya pusat ekonomi yang aktif bahkan sebelum berdirinya Daulah Aghlabiyah secara resmi (Gordon, 2022).




3. Sistem Moneter dan Mata Uang

3.1 Produksi Koin dan Kebijakan Moneter

Salah satu aspek paling penting dari sistem ekonomi Aghlabiyah adalah kebijakan moneter mereka, yang tercermin dalam produksi koin. Para amir Aghlabiyah mencetak dinar emas sebagai ekspresi kedaulatan mereka, mengikuti model Abbasiyah namun dengan karakteristik lokal yang khas (Anderson et al., 2018). Penelitian numismatik yang dilakukan oleh Abdelhamid Fenina menunjukkan bahwa banyaknya referensi numismatik yang mendahului berdirinya negara Aghlabiyah mengindikasikan keberadaan pusat ekonomi (qasr) yang aktif sebelum Ibrahim ibn al-Aghlab mengubah situs tersebut dengan memperkenalkan masjid baru, benteng, dan pemberian tanah (Gordon, 2022).

Studi lebih lanjut oleh Mohamed Ghodhbane tentang sejarah stilistik produksi koin Aghlabiyah menunjukkan evolusi yang menarik dalam desain dan teknik pembuatan koin sepanjang periode dinasti ini (Gordon, 2022). Dinar Aghlabiyah berhasil mencapai nilai mata uang internasional dan berkembang pesat di wilayah-wilayah kolonial selama masa pemerintahan Ibrahim ibn al-Aghlab, membuktikan kredibilitas ekonomi pemerintahannya (Tumiran & Baharudin, 2019).




3.2 Sumber Perak dan Jaringan Pertambangan

Analisis isotop timbal terhadap dirham-dirham awal Islam memberikan wawasan yang sangat berharga tentang sumber-sumber perak yang digunakan dalam produksi koin di Ifriqiya. Penelitian menunjukkan bahwa perak yang digunakan di mint-mint Kairouan dan al-Abbasiyya kemungkinan besar berasal dari Maroko, yang kemudian berpindah ke timur melalui jalur darat yang menghubungkan Maghreb barat dengan provinsi timur laut Ifriqiya (Merkel et al., 2023). Fakta bahwa Maroko diambil alih oleh dinasti Idrisiyah sejak tahun 789 M berkorelasi dengan penurunan tajam dalam produksi mint di al-Abbasiyya Abbasiyah, menunjukkan betapa pentingnya jalur pasokan perak ini bagi perekonomian Ifriqiya (Merkel et al., 2023).

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi pemahaman kita tentang jaringan perdagangan dan ekonomi di kawasan Maghreb pada periode Aghlabiyah. Perak dari tambang-tambang di Maroko mengalir ke timur melalui jaringan perdagangan yang kompleks, melewati berbagai entitas politik yang berbeda — Idrisiyah, Rustamiyah, dan akhirnya Aghlabiyah — sebelum dicetak menjadi koin di mint-mint Ifriqiya (Merkel et al., 2023).




4. Perdagangan Maritim dan Jaringan Komersial

4.1 Perdagangan Laut di Ifriqiya Abad ke-9

Meskipun bukti perdagangan laut dari periode pemerintahan Aghlabiyah (184/800 hingga 296/909 M) lebih sedikit dibandingkan periode Fatimiyah berikutnya, terdapat indikasi kuat bahwa periode Aghlabiyah merupakan kunci bagi perkembangan ekonomi provinsi ini (Bosanquet, 2022). Penelitian Bosanquet menunjukkan bahwa teks-teks hukum (legal texts) merupakan sumber tambahan yang sangat berharga untuk memahami praktik perdagangan di Ifriqiya abad ke-9, di samping sumber-sumber sejarah dan geografis Arab yang lebih umum digunakan (Bosanquet, 2022).

Teks-teks hukum, khususnya koleksi al-Burzuli yang memuat bab khusus tentang perdagangan maritim dan konflik yang berkaitan dengan kapal, memberikan informasi baru tentang perdagangan laut di Ifriqiya abad ke-9 (Bosanquet, 2022). Sumber-sumber ini mengungkapkan bahwa perdagangan maritim di sepanjang pantai Ifriqiya sudah berkembang cukup signifikan pada masa Aghlabiyah, meskipun skala dan intensitasnya mungkin belum sebesar pada masa Fatimiyah.




4.2 Hubungan Dagang dengan Sisilia

Hubungan ekonomi antara Ifriqiya dan Sisilia merupakan salah satu dimensi paling penting dari sistem perdagangan Aghlabiyah. Meskipun terdapat keheningan relatif mengenai lalu lintas maritim antara Sisilia dan Afrika Utara selama abad ke-8 dan ke-9, tampaknya operasi militer yang diluncurkan di Sisilia oleh Aghlabiyah tidak secara substansial mengubah dinamika yang mendukung perdagangan Mediterania (Bramoullé, 2022). Perdagangan maritim dapat dibuktikan sejak abad ke-8, ketika dinasti Aghlabiyah (800–909 M) berkuasa di Ifriqiya (Bramoullé, 2022).

Penaklukan Sisilia oleh Aghlabiyah, yang dimulai pada tahun 827 M dengan ekspedisi yang dipimpin oleh Asad ibn al-Furat, membuka dimensi baru dalam hubungan ekonomi antara Ifriqiya dan Sisilia (Fernández, 2016). Kota Palermo, yang menjadi ibu kota Sisilia Aghlabiyah sejak tahun 831 M, berkembang menjadi pusat perdagangan yang penting, dengan koneksi erat ke Ifriqiya dalam hal produksi keramik berlapis dan pertukaran komoditas lainnya (Salinas et al., 2022). Hubungan teknologi dan stilistik yang kuat antara produksi keramik Aghlabiyah di Ifriqiya dan produksi di Palermo menunjukkan adanya pertukaran pengrajin dan teknologi yang intensif antara kedua wilayah ini (Occari et al., 2024).




4.3 Perdagangan dengan Dunia Mediterania yang Lebih Luas

Perubahan pola perdagangan antara abad ke-9 dan ke-11 dapat dikaitkan dengan koneksi Ifriqiya yang semakin intensif dengan sisa Kekhalifahan Abbasiyah dan reorientasi sosial-ekonomi Afrika Utara dari fokus utara-selatan Romawi menuju orientasi timur-barat yang lebih kuat (Steinacher & Margreiter, 2022). Perubahan ini mencerminkan integrasi Ifriqiya yang semakin dalam ke dalam jaringan ekonomi Islam yang lebih luas, dengan Kairouan sebagai pusat utama yang menghubungkan berbagai jalur perdagangan.

Jalur perdagangan, pasar, dan kawasan pertanian berkembang sebagai respons terhadap perubahan rezim politik dan hubungan ekonomi (Steinacher & Margreiter, 2022). Kairouan, sebagai ibu kota Aghlabiyah, memainkan peran sentral dalam jaringan perdagangan ini. Jalan utama kota Aghlabiyah, al-Simat, yang membentang sepanjang sekitar 4 km dari selatan ke utara, diatapi dari ujung ke ujung dan dilapisi toko-toko di kedua sisinya, menjadikannya pusat komersial yang vital (Bloom, 2022).




5. Perdagangan Trans-Sahara dan Ekonomi Budak

5.1 Jaringan Perdagangan Trans-Sahara

Salah satu dimensi paling signifikan dari ekonomi Aghlabiyah adalah keterlibatannya dalam jaringan perdagangan trans-Sahara. Ifriqiya di bawah Aghlabiyah merupakan rumah bagi populasi besar budak sub-Sahara yang bekerja di sektor pertanian wilayah tersebut (Berger, 2020). Kontak perdagangan yang intensif melintasi Sahara menyediakan wilayah ini dengan generasi-generasi baru budak secara terus-menerus, dan perdagangan budak melintasi Sahara berada di tangan kelompok-kelompok Berber (Berger, 2020).

Dinasti Aghlabiyah merupakan dinasti pertama yang mencari dukungan dari pasukan budak (slave troops), memanfaatkan jaringan perdagangan trans-Sahara yang sudah ada untuk menciptakan milisi budak (Berger, 2020). Tentara Aghlabiyah dan beberapa perkebunan besar di Ifriqiya menggunakan budak-budak kulit hitam, yang juga bertempur dalam pasukan khusus (Aillet, 2020). Ini menunjukkan bahwa perdagangan budak bukan hanya fenomena ekonomi semata, tetapi juga memiliki dimensi militer dan politik yang penting.




5.2 Peran Jaringan Ibadi dalam Perdagangan

Jaringan Ibadi, yang berpusat di Rustamiyah Tahert (Aljazair barat), memainkan peran penting dalam perdagangan trans-Sahara yang juga berdampak pada ekonomi Aghlabiyah. Pedagang-pedagang Ibadi bersirkulasi secara luas antara wilayah Abbasiyah dan pinggiran baratnya, dengan orang-orang Maghribi memiliki toko-toko di Fustat dan bepergian sejauh Baghdad dan Samarra (Aillet, 2020). Perdagangan trans-Sahara, termasuk budak dan emas, kemungkinan besar mengalami perkembangan pertamanya berkat permintaan imperial dari Kekhalifahan Abbasiyah (Aillet, 2020).

Meskipun hubungan antara Aghlabiyah dan Rustamiyah sering kali bersifat konfliktual, jaringan perdagangan yang menghubungkan kedua entitas ini dengan dunia Abbasiyah yang lebih luas tetap berfungsi. Emas, garam, dan logam mulia yang disebutkan sebagai kekayaan Ifriqiya abad ke-9 sebagian besar mengalir melalui jaringan perdagangan trans-Sahara ini (Anderson et al., 2018).




6. Sektor Pertanian dan Pengelolaan Lahan

6.1 Produktivitas Pertanian Ifriqiya

Ifriqiya abad ke-9 dikenal karena produktivitas pertaniannya yang tinggi, yang merupakan salah satu fondasi utama kemakmuran ekonomi Aghlabiyah (Anderson et al., 2018). Berbagai komoditas pertanian diproduksi di wilayah ini, termasuk kapas yang diekspor ke Kairouan, rami untuk produksi linen, dan berbagai tanaman lainnya (Tedesco, 2022). Kota-kota seperti Tunis, Tubna, Msila, dan Biskra masing-masing memiliki spesialisasi pertanian mereka sendiri, yang berkontribusi pada keragaman ekonomi wilayah ini (Tedesco, 2022).

Mahdia di Sahel memproduksi tekstil yang dikerjakan dengan halus dan diekspor secara luas karena kualitas pengerjaannya yang tinggi (Tedesco, 2022). Ini menunjukkan bahwa sektor pertanian Aghlabiyah tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga bahan baku untuk industri tekstil yang berkembang pesat. Keberadaan perkebunan-perkebunan besar (latifundia) yang menggunakan tenaga kerja budak menunjukkan bahwa sistem pertanian Aghlabiyah memiliki karakter yang kompleks, dengan campuran antara pertanian skala kecil dan pertanian skala besar (Hasan et al., 2023).




6.2 Sistem Irigasi dan Infrastruktur Pertanian

Investasi Aghlabiyah dalam infrastruktur pertanian, khususnya sistem irigasi, merupakan salah satu kontribusi ekonomi mereka yang paling bertahan lama. Sistem aqueduct Cherichira yang memasok air ke kota Kairouan, yang panjangnya mencapai 32 km, mengalami dua kali retrofitting selama periode Aghlabiyah (800–903 M) (Hinzen et al., 2021). Investasi besar dalam infrastruktur air ini mencerminkan komitmen pemerintah Aghlabiyah terhadap pengembangan pertanian dan perkotaan.

Kolam-kolam Aghlabiyah yang terkenal di dekat Kairouan merupakan contoh lain dari investasi infrastruktur yang signifikan. Kolam-kolam ini tidak hanya berfungsi sebagai reservoir air untuk kota, tetapi juga menjadi simbol kemegahan dan kemakmuran Aghlabiyah. Al-Bakri melaporkan bahwa khalifah Fatimiyah al-Mahdi, ketika mengunjungi Ifriqiya, menyatakan bahwa ia telah melihat dua hal tanpa tandingan di Timur: cistern besar yang terletak di gerbang Tunis di Qayrawan dan kastil Raqqada yang dikenal sebagai kastil Danau (Valero, 1996).




6.3 Pengelolaan Tanah dan Sistem Ribat

Dimensi ekonomi dari institusi ribat di Ifriqiya Aghlabiyah sering kali diabaikan dalam kajian-kajian yang lebih berfokus pada aspek militer dan keagamaannya. Penelitian terbaru telah menyoroti pentingnya kepemilikan tanah bagi para penjaga Islam (murābiṭūn), yang merupakan sumber kekayaan dan kenyamanan material yang tak terbantahkan (Staëvel, 2023). Studi-studi yang berfokus pada hubungan produksi dan metode eksploitasi rasional sumber daya lingkungan telah memperbarui pemahaman kita tentang sejarah ekonomi kawasan pesisir dan evolusi fisik lanskapnya (Staëvel, 2023).

Tanah-tanah publik yang diberikan kepada para murābiṭūn merupakan cara bagi negara untuk menghindari pembentukan aristokrasi prajurit profesional, sambil tetap mempertahankan kendali atas sumber daya lahan (Staëvel, 2023). Ini menunjukkan bahwa kebijakan pertanahan Aghlabiyah memiliki dimensi politik-ekonomi yang kompleks, di mana distribusi lahan digunakan sebagai instrumen untuk mengelola kelompok-kelompok sosial yang berbeda.




7. Industri Kerajinan dan Produksi Manufaktur

7.1 Industri Keramik Berlapis

Salah satu kontribusi paling signifikan Aghlabiyah terhadap sejarah ekonomi dan budaya Mediterania adalah pengembangan industri keramik berlapis (glazed ware). Ifriqiya kemungkinan merupakan pusat produksi awal keramik berlapis polikrom di wilayah Islam barat dari Mediterania Tengah dan Barat, yang dimulai pada abad ke-9 di bawah pemerintahan Aghlabiyah (Salinas et al., 2020). Desain geometris skematik, epigrafis, dan burung dilukis dalam warna hijau dan coklat dengan latar belakang kuning cerah (Salinas et al., 2020).

Produksi keramik berlapis Aghlabiyah berpusat di kawasan Kairouan, dan kemungkinan di kota palatial Raqqada yang didirikan pada tahun 876 M (Salinas et al., 2022). Keramik-keramik ini kemudian didistribusikan ke seluruh Afrika Utara dan menjadi penanda utama untuk hunian abad pertengahan di kawasan ini (Occari et al., 2024). Koneksi teknologi antara Ifriqiya Aghlabiyah dan wilayah-wilayah Islam terdekat lainnya juga telah disorot oleh banyak sarjana; misalnya, Tahert di Maghreb Tengah (Aljazair sekarang) dan Palermo di Sisilia keduanya menunjukkan bukti produksi lokal keramik berlapis kuning polikrom yang menunjukkan kesamaan jelas dengan keramik berlapis Tunisia (Salinas et al., 2020).

Ifriqiya Aghlabiyah diyakini secara umum telah memainkan peran penting dalam difusi teknologi berlapis ke Afrika Barat Laut, Iberia, dan Sisilia (Occari et al., 2024). Perkembangan teknologi berlapis di Palermo (Sisilia) pada akhir abad ke-9 secara tradisional dianggap sebagai hasil perpindahan pengrajin dari Ifriqiya Aghlabiyah ke Sisilia Aghlabiyah (Occari et al., 2024). Ini menunjukkan bahwa transfer teknologi dan mobilitas pengrajin merupakan komponen penting dari integrasi ekonomi antara Ifriqiya dan wilayah-wilayah yang berada di bawah pengaruh Aghlabiyah.




7.2 Industri Tekstil

Industri tekstil merupakan sektor manufaktur penting lainnya di Ifriqiya Aghlabiyah. Produksi tekstil berkualitas tinggi, khususnya dari Mahdia di Sahel, dikenal luas dan diekspor ke berbagai wilayah (Tedesco, 2022). Kapas yang ditanam di Tunis diekspor ke Kairouan, sementara rami untuk produksi linen juga dibudidayakan di berbagai wilayah Ifriqiya (Tedesco, 2022). Keberadaan industri tekstil yang berkembang ini mencerminkan tingkat spesialisasi ekonomi yang cukup tinggi di Ifriqiya Aghlabiyah.




7.3 Produksi Lustre dan Keramik Mewah

Selain keramik berlapis biasa, Ifriqiya Aghlabiyah juga terhubung dengan produksi keramik lustre yang lebih mewah. Bukti paling luar biasa dari keahlian pengrajin Abbasiyah adalah ansambel ubin lustre dari mihrab yang dipasang pada tahun 862 M di Masjid Sidi Oqba Aghlabiyah di Kairouan (Sciau et al., 2016). Ubin-ubin lustre ini, yang diimpor dari Baghdad atau Samarra, menunjukkan bahwa para amir Aghlabiyah mampu dan bersedia menginvestasikan sumber daya ekonomi yang signifikan untuk memperindah bangunan-bangunan keagamaan mereka dengan barang-barang mewah dari pusat Kekhalifahan Abbasiyah.




8. Pembangunan Perkotaan sebagai Ekspresi Ekonomi

8.1 Kairouan sebagai Pusat Ekonomi

Kairouan, sebagai ibu kota Aghlabiyah, merupakan pusat ekonomi utama Ifriqiya. Kota ini dikenal sebagai "kebanggaan orang Arab, pusat kekuasaan, dan salah satu pilar Dar al-Islam" (Hermes, 2017). Jalan utama kota, al-Simat, yang membentang sepanjang sekitar 4 km dan diatapi dari ujung ke ujung dengan toko-toko di kedua sisinya, mencerminkan vitalitas komersial kota ini (Bloom, 2022). Kairouan bukan hanya pusat administrasi dan keagamaan, tetapi juga pusat perdagangan dan kerajinan yang penting.

Namun, hubungan antara Kairouan dan pusat Aghlabiyah tidak selalu harmonis. Caroline Goodson melihat Kairouan bukan sebagai ibu kota Aghlabiyah, tetapi sebagai tantangan abadi bagi otoritas Aghlabiyah, karena "topografi kekuasaan alternatif" yang muncul dari kalangan pedagang lokal dan hakim Sunni di dalam kota (Gordon, 2022). Ketegangan ini mendorong para amir, mulai dari Ibrahim ibn al-Aghlab, untuk meningkatkan investasi dalam pembangunan perkotaan di luar kota itu sendiri — pertama dengan membangun al-Abbasiyya pada tahun 800 M, dan kemudian Raqqada pada tahun 876 M (Anderson et al., 2018; Gordon, 2022).




8.2 Kota-Kota Palatial: al-Abbasiyya dan Raqqada

Pembangunan kota-kota palatial merupakan salah satu ekspresi paling jelas dari kemakmuran ekonomi Aghlabiyah. Al-Abbasiyya, yang dibangun pada tahun 800 M, dan Raqqada, yang didirikan pada tahun 876 M, keduanya merupakan pusat-pusat kekuasaan dan ekonomi yang penting (Anderson et al., 2018). Kota-kota ini dibangun mengikuti model Samarra Abbasiyah, mencerminkan ambisi para amir Aghlabiyah untuk menyamai kemegahan pusat Kekhalifahan (Gordon, 2022; Moreno, 2015).

Raqqada, yang terletak sekitar 9 km di barat daya Kairouan, menjadi pusat produksi keramik berlapis yang penting, dengan "Jaune de Raqqada" (keramik kuning Raqqada) menjadi salah satu produk kerajinan paling khas dari periode Aghlabiyah (Amara et al., 2005; Occari et al., 2024). Kota palatial ini juga menjadi rumah bagi perpustakaan Aghlabiyah yang didirikan oleh Amir Ibrahim ibn Muhammad al-Aghlabi (261–289 H) di Raqqada, yang berusaha menyaingi ketenaran perpustakaan Baghdad (Algeriani & Mohadi, 2017). Investasi dalam infrastruktur intelektual ini mencerminkan kemakmuran ekonomi yang memungkinkan para amir Aghlabiyah untuk mendukung kegiatan-kegiatan budaya dan ilmiah.




9. Kekuatan Angkatan Laut dan Ekonomi Maritim

9.1 Pembangunan Armada Laut

Kekuatan angkatan laut Aghlabiyah merupakan salah satu komponen penting dari sistem ekonomi mereka, karena armada laut tidak hanya berfungsi sebagai instrumen militer tetapi juga sebagai pelindung jalur perdagangan maritim. Pada saat dinasti Fatimiyah mengambil alih Ifriqiya pada tahun 909 M, kawasan ini sudah memiliki pengalaman dua abad operasi angkatan laut Muslim (Bramoullé, 2007). Selama periode Aghlabiyah, masyarakat maritim sempat berkembang di Ifriqiya dengan pengetahuan khusus dan tradisi angkatan laut yang kuat (Bramoullé, 2007).

Pembangunan dan pemeliharaan armada laut memerlukan investasi ekonomi yang sangat besar. Biaya untuk menemukan bahan-bahan yang diperlukan untuk konstruksi angkatan laut merupakan beban finansial yang signifikan bagi pemerintah (Bramoullé, 2007). Namun, investasi ini memberikan manfaat ekonomi yang besar melalui perlindungan jalur perdagangan maritim dan kemampuan untuk melakukan ekspansi ke Sisilia dan wilayah-wilayah lain di Mediterania.




9.2 Ribat sebagai Infrastruktur Ekonomi Pesisir

Ribat-ribat yang dibangun di sepanjang pantai Sahel Ifriqiya tidak hanya berfungsi sebagai pos pertahanan militer, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi yang penting. Tren historiografi terbaru telah menyoroti bahwa ribat-ribat ini mungkin juga berfungsi sebagai stasiun di jalur perdagangan atau gudang (warehouses) (Staëvel, 2023). Evolusi yang dapat ditelusuri dari fatwa-fatwa abad ke-11 dan ke-12 menunjukkan bahwa ribat-ribat ini berkembang menjadi simpul-simpul penting dalam jaringan perdagangan pesisir (Staëvel, 2023).

Periode Aghlabiyah digambarkan sebagai "zaman keemasan ribat" (Bosanquet, 2023), dan pembangunan ribat-ribat ini merupakan investasi infrastruktur yang signifikan. Amir Aghlabiyah Abu Ibrahim Ahmad (242/856–249/863 M) digambarkan telah membangun 10.000 benteng, sebuah angka yang pasti berlebihan tetapi mencerminkan persepsi tentang penguasa Aghlabiyah ini sebagai pendukung "ribatisasi" Ifriqiya (Bosanquet, 2023). Investasi besar dalam infrastruktur pertahanan pesisir ini juga berkontribusi pada keamanan jalur perdagangan maritim, yang pada gilirannya mendukung perkembangan ekonomi kawasan pesisir.




10. Hubungan Ekonomi dengan Tetangga dan Rival

10.1 Hubungan dengan Rustamiyah dan Jaringan Ibadi

Hubungan ekonomi antara Aghlabiyah dan Rustamiyah Tahert merupakan salah satu aspek paling kompleks dari sistem ekonomi Aghlabiyah. Meskipun kedua dinasti ini sering kali berada dalam konflik politik, jaringan perdagangan yang menghubungkan mereka tetap berfungsi. Rustamiyah, sebagai negara Kharijite Ibadi yang berbasis di Tahert (Aljazair barat), memiliki jaringan perdagangan yang luas yang menghubungkan Maghreb dengan dunia Abbasiyah (Kennedy, 2018). Pedagang-pedagang Ibadi mengembangkan jaringan perdagangan yang kuat, dan Basra — pusat Ibadi di timur — merupakan emporium perdagangan yang terkenal (Kennedy, 2018).

Koneksi teknologi antara Ifriqiya Aghlabiyah dan Tahert di Maghreb Tengah (Aljazair sekarang) telah disorot oleh banyak sarjana, dengan Tahert menunjukkan bukti produksi lokal keramik berlapis kuning polikrom yang menunjukkan kesamaan jelas dengan keramik berlapis Tunisia (Salinas et al., 2020). Ini menunjukkan adanya pertukaran teknologi dan kemungkinan juga pertukaran pengrajin antara kedua wilayah ini, meskipun hubungan politik mereka sering kali tegang.




10.2 Hubungan dengan Idrisiyah dan Midrarariyah

Hubungan ekonomi Aghlabiyah dengan Idrisiyah Maroko dan Midrarariyah Sijilmasa juga merupakan aspek penting dari sistem ekonomi mereka. Idrisiyah, yang didirikan pada tahun 789 M, merupakan saingan utama Aghlabiyah di kawasan Maghreb (Fenwick, 2022). Namun, meskipun ada persaingan politik, jalur perdagangan yang menghubungkan Ifriqiya dengan Maroko melalui Maghreb tengah tetap berfungsi, memungkinkan aliran perak dari tambang-tambang Maroko ke mint-mint Ifriqiya (Merkel et al., 2023).

Sijilmasa, sebagai pusat Midrarariyah, merupakan simpul penting dalam jaringan perdagangan trans-Sahara yang menghubungkan Afrika sub-Sahara dengan Mediterania (Anderson et al., 2018). Meskipun Aghlabiyah tidak secara langsung mengendalikan Sijilmasa, mereka mendapat manfaat dari jaringan perdagangan yang melewati kota ini, khususnya dalam hal pasokan emas dan budak dari Afrika sub-Sahara.




11. Kehidupan Intelektual dan Ekonomi Pengetahuan

11.1 Kairouan sebagai Pusat Intelektual

Kairouan di bawah Aghlabiyah berkembang menjadi pusat intelektual dan budaya yang penting, yang pada gilirannya mendukung perkembangan ekonomi melalui berbagai mekanisme. Kota ini menjadi pusat penting bagi perkembangan mazhab Maliki, dengan tokoh-tokoh seperti Sahnun ibn Sa'id (w. 854 M) yang memainkan peran kunci dalam pengembangan hukum Islam di kawasan ini (Brockopp, 2011). Keberadaan komunitas ulama yang kuat di Kairouan menciptakan permintaan akan buku-buku, kertas, tinta, dan berbagai komoditas intelektual lainnya, yang pada gilirannya mendukung sektor-sektor ekonomi tertentu.

Perpustakaan Aghlabiyah yang didirikan di Raqqada oleh Amir Ibrahim ibn Muhammad al-Aghlabi merupakan ekspresi paling jelas dari investasi Aghlabiyah dalam "ekonomi pengetahuan" (Algeriani & Mohadi, 2017). Perpustakaan ini membawa sejumlah manuskrip, buku, dan alat-alat ilmiah yang berharga, mencerminkan kemampuan ekonomi Aghlabiyah untuk mendukung kegiatan-kegiatan intelektual yang mahal.




11.2 Bait al-Hikmah di Kairouan

Bait al-Hikmah di Kairouan, yang didirikan oleh Ziadatullah III al-Aghlabi (gubernur Abbasiyah di Afrika Utara, 290–296 H), berfungsi sebagai pusat aktivitas intelektual di mana orang-orang dari berbagai budaya dan latar belakang pengetahuan dari seluruh dunia bertemu dan berinteraksi (Abbas et al., 2024). Di sini berlangsung kegiatan penerjemahan, penulisan, dan pengajaran dalam bidang-bidang seperti kedokteran, farmasi, matematika, astronomi, metrologi, botani, dan musik (Abbas et al., 2024). Keberadaan institusi intelektual semacam ini mencerminkan tingkat kemakmuran ekonomi yang memungkinkan investasi dalam kegiatan-kegiatan non-produktif secara langsung namun penting bagi perkembangan peradaban.




12. Infrastruktur Keagamaan sebagai Investasi Ekonomi

12.1 Pembangunan Masjid dan Dampak Ekonominya

Investasi besar Aghlabiyah dalam pembangunan masjid-masjid besar merupakan salah satu ekspresi paling jelas dari kemakmuran ekonomi mereka. Masjid Agung Kairouan, yang diperluas dan direnovasi secara signifikan pada abad ke-9, Masjid Zaytuna di Tunis (yang sebagian besar merupakan hasil patronase amir Aghlabiyah Abu Ibrahim Ahmad pada tahun 864–865 M), Masjid Aghlabiyah di Sfax (849 M), dan Masjid Aghlabiyah di Sousse (abad ke-9) semuanya merupakan proyek konstruksi besar yang memerlukan investasi ekonomi yang signifikan (Fenwick, 2023).

Pembangunan masjid-masjid ini tidak hanya merupakan ekspresi keagamaan, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang nyata. Proyek-proyek konstruksi besar ini menciptakan permintaan akan bahan bangunan, tenaga kerja terampil, dan berbagai komoditas lainnya. Selain itu, masjid-masjid besar berfungsi sebagai pusat komunitas yang mendukung berbagai kegiatan ekonomi di sekitarnya, termasuk pasar dan toko-toko yang berlokasi di dekat masjid.




12.2 Rumah Sakit Kairouan

Salah satu investasi infrastruktur sosial yang paling signifikan dari periode Aghlabiyah adalah pembangunan rumah sakit Kairouan pada tahun 830 M oleh Pangeran Ziyadat Allah I dari Ifriqiya (memerintah 817–838 M) (Akhmetova, 2016; Ardo, 2023). Rumah sakit ini merupakan salah satu institusi medis paling awal di dunia Islam, dan keberadaannya mencerminkan kemampuan ekonomi Aghlabiyah untuk mendukung layanan publik yang mahal. Fakta bahwa perawat-perawat resmi pertama (semua dari Sudan) dipekerjakan di rumah sakit ini menunjukkan adanya sistem rekrutmen dan penggajian yang terorganisir (Akhmetova, 2016).




13. Dinamika Ekonomi Internal: Ketegangan dan Stabilitas

13.1 Konflik antara Jund dan Pemerintah Aghlabiyah

Salah satu tantangan ekonomi terbesar yang dihadapi oleh Aghlabiyah adalah konflik yang terus-menerus dengan jund (pasukan Arab yang ditempatkan di Ifriqiya). Sejarah Ifriqiya antara Revolusi Abbasiyah tahun 750 M dan kemunculan emirat Aghlabiyah merupakan kisah yang membingungkan dan dalam banyak hal tidak menyenangkan, dengan peperangan melawan pemberontak Khariji dan pemberontakan terus-menerus dari jund (Kennedy, 2018). Konflik-konflik ini memiliki dampak ekonomi yang signifikan, karena mengganggu produksi pertanian, perdagangan, dan stabilitas fiskal.

Ketidakhadiran campur tangan murābiṭūn dalam perjuangan antara jund dan negara Aghlabiyah sangat mencolok (Staëvel, 2023), menunjukkan bahwa setidaknya satu kelompok sosial yang penting berhasil mempertahankan netralitas dalam konflik-konflik internal ini. Stabilitas relatif yang dicapai oleh beberapa gubernur, seperti Yazid ibn Hatim dari keluarga Muhallabi (771–793 M), yang memberikan periode ketenangan terpanjang dalam sejarah Ifriqiya abad ke-8, sangat penting bagi perkembangan ekonomi (Kennedy, 2018).




13.2 Perubahan Pola Perdagangan dan Reorientasi Ekonomi

Antara penaklukan Arab dan akhir pemerintahan Aghlabiyah, terjadi pergeseran dalam pola perdagangan di Ifriqiya (Steinacher & Margreiter, 2022). Perubahan pola perdagangan antara abad ke-9 dan ke-11 dapat dikaitkan dengan koneksi Ifriqiya yang semakin intensif dengan sisa Kekhalifahan Abbasiyah dan reorientasi sosial-ekonomi Afrika Utara dari fokus utara-selatan Romawi menuju orientasi timur-barat yang lebih kuat (Steinacher & Margreiter, 2022). Reorientasi ini mencerminkan integrasi Ifriqiya yang semakin dalam ke dalam jaringan ekonomi Islam yang lebih luas, dengan konsekuensi penting bagi struktur perdagangan dan produksi di wilayah ini.




14. Warisan Ekonomi Aghlabiyah

14.1 Dampak terhadap Ekonomi Fatimiyah

Ketika Fatimiyah mengambil alih Ifriqiya pada tahun 909 M, mereka mewarisi infrastruktur ekonomi yang telah dibangun oleh Aghlabiyah selama lebih dari satu abad. Pada saat instalasi dinasti Fatimiyah di Ifriqiya pada tahun 909 M, kawasan ini sudah memiliki pengalaman dua abad operasi angkatan laut Muslim, yang mencapai puncaknya di bawah para amir Aghlabiyah (Bramoullé, 2007). Masyarakat maritim yang telah berkembang di Ifriqiya selama periode Aghlabiyah menjadi fondasi bagi kekuatan angkatan laut Fatimiyah.

Dalam bidang keramik, produksi keramik berlapis yang dimulai pada periode Aghlabiyah berlanjut ke periode Fatimiyah, dengan inovasi teknologi yang signifikan. Produksi glasir kuarsa yang dihancurkan memberikan bukti inovasi teknologi utama dibandingkan dengan periode Aghlabiyah (Salinas et al., 2022). Ini menunjukkan bahwa warisan teknologi Aghlabiyah menjadi titik awal bagi perkembangan lebih lanjut di bawah Fatimiyah.




14.2 Pengaruh terhadap Kawasan Mediterania

Pengaruh ekonomi Aghlabiyah melampaui batas-batas Ifriqiya dan mencapai berbagai kawasan Mediterania. Dalam bidang teknologi keramik, Ifriqiya Aghlabiyah diyakini telah memainkan peran penting dalam difusi teknologi berlapis ke Afrika Barat Laut, Iberia, dan Sisilia (Occari et al., 2024). Koneksi teknologi antara Ifriqiya Aghlabiyah dan wilayah-wilayah Islam terdekat lainnya menunjukkan adanya jaringan pertukaran teknologi dan pengrajin yang luas.

Dalam bidang arsitektur, pengaruh Aghlabiyah juga terasa di berbagai kawasan. Keberadaan inovasi epigrafis pada koin-koin Umayyad Cordoba yang menunjukkan pengaruh Aghlabiyah mengarah pada pertimbangan kemungkinan kehadiran pengrajin atau teknisi Aghlabiyah yang melarikan diri dari Maghreb karena tekanan Fatimiyah (Armada, 2017). Ini menunjukkan bahwa mobilitas pengrajin dan teknisi Aghlabiyah memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan seni dan teknologi di berbagai kawasan Mediterania.




15. Kesimpulan

Sistem perekonomian Daulah Aghlabiyah merupakan sebuah sistem yang kompleks dan multidimensi, yang mencerminkan posisi unik Ifriqiya sebagai persimpangan antara dunia Islam timur dan barat, antara Mediterania dan Afrika sub-Sahara. Kemakmuran ekonomi Aghlabiyah dibangun di atas beberapa pilar utama: produktivitas pertanian yang tinggi, perdagangan maritim yang berkembang, jaringan perdagangan trans-Sahara yang mengalirkan emas dan budak, industri kerajinan yang inovatif — khususnya keramik berlapis — dan investasi besar dalam infrastruktur perkotaan dan keagamaan (Anderson et al., 2018; Berger, 2020; Bosanquet, 2022; Salinas et al., 2020).

Otonomi ekonomi de facto yang dinikmati oleh para amir Aghlabiyah, meskipun secara nominal berada di bawah kedaulatan Abbasiyah, memungkinkan mereka untuk mengembangkan kebijakan ekonomi yang responsif terhadap kondisi lokal (Anderson et al., 2018; Kennedy, 2018). Kebijakan moneter mereka, yang tercermin dalam produksi dinar emas berkualitas tinggi, mencerminkan kepercayaan diri ekonomi yang besar (Tumiran & Baharudin, 2019). Investasi mereka dalam infrastruktur — dari sistem aqueduct hingga kota-kota palatial, dari ribat-ribat pesisir hingga masjid-masjid besar — mencerminkan kemampuan ekonomi yang luar biasa dan visi jangka panjang tentang pembangunan wilayah (Anderson et al., 2018; Fenwick, 2023; Hinzen et al., 2021; Staëvel, 2023).

Warisan ekonomi Aghlabiyah bertahan jauh melampaui jatuhnya dinasti ini pada tahun 909 M. Infrastruktur yang mereka bangun, teknologi yang mereka kembangkan, dan jaringan perdagangan yang mereka perkuat menjadi fondasi bagi perkembangan ekonomi Ifriqiya di bawah Fatimiyah dan dinasti-dinasti berikutnya (Bramoullé, 2007; Salinas et al., 2022). Dalam konteks yang lebih luas, Aghlabiyah merupakan salah satu contoh paling menarik dari bagaimana sebuah dinasti regional yang relatif kecil dapat mencapai kemakmuran ekonomi yang luar biasa melalui kombinasi kebijakan yang cerdas, investasi infrastruktur yang strategis, dan integrasi yang efektif ke dalam jaringan perdagangan global yang lebih luas.




Daftar Pustaka

Abbas, N., Rochmawan, A. E., & Astoko, D. B. (2024). The role of classical Islamic educational institutions before the emergence of madrasah. Juspi (Jurnal Sejarah Peradaban Islam), 8(1), 134. https://doi.org/10.30829/juspi.v8i1.19895

Aillet, C. (2020). Connecting the Ibāḍī network in North Africa with the Empire (2nd–3rd/8th–9th centuries) (pp. 421–440). https://doi.org/10.1515/9783110669800-017

Akhmetova, E. (2016). Women in Islamic civilisation: Their rights and contributions. ICR Journal, 7(4), 476–491. https://doi.org/10.52282/icr.v7i4.230

Algeriani, A. A.-A., & Mohadi, M. (2017). The House of Wisdom (Bayt al-Hikmah) and its civilizational impact on Islamic libraries: A historical perspective. Mediterranean Journal of Social Sciences, 8(5), 179–187. https://doi.org/10.1515/mjss-2017-0036

Amara, A. B., Schvoerer, M., Thierrin-Michael, G., & Rammah, M. (2005). Distinction de céramiques glaçurées aghlabides ou fatimides (IXe–XIe siècles, Ifriqiya) par la mise en évidence de différences de texture au niveau de l'interface glaçure–terre cuite. Archéosciences, 29, 35–42. https://doi.org/10.4000/archeosciences.458

Anderson, G. D., Fenwick, C. G., & Rosser-Owen, M. (2018). The Aghlabids and their neighbors: An introduction (pp. 1–30). https://doi.org/10.1163/9789004356047_002

Ardo, H. (2023). Female healthcare workers: An Islamic panacea. Maqolat Journal of Islamic Studies, 1(4), 154–166. https://doi.org/10.58355/maqolat.v1i4.21

Armada, A. A. (2017). The coinage of al-Andalus. Shedet Annual Peer-Reviewed Journal Issued by the Faculty of Archaeology Fayoum University, 4(4), 68–90. https://doi.org/10.21608/shedet.004.05

Azmeh, W. (2016). Misconceptions about the caliphate in Islam. Digest of Middle East Studies, 25(2), 227–263. https://doi.org/10.1111/dome.12083

Berger, L. (2020). Mamluks in Abbasid society (pp. 413–429). https://doi.org/10.1163/9789004425613_015

Bloom, J. M. (2022). Exterior vs. interior in early Maghribi mosques. Libyan Studies, 53, 161–172. https://doi.org/10.1017/lis.2022.7

Bosanquet, A. (2022). Maritime trade from 3rd/9th-century Ifrīqiya: Insights from legal sources. Medieval Worlds, 16, 108–128. https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no16_2022s108

Bosanquet, A. (2023). What should they do? Depictions of ribāṭ and murābiṭūn in early Islamic Ifrīqiya. Religions, 14(11), 1340. https://doi.org/10.3390/rel14111340

Bramoullé, D. (2007). Recruiting crews in the Fatimid navy (909–1171). Medieval Encounters, 13(1), 4–31. https://doi.org/10.1163/157006707x173998

Bramoullé, D. (2022). Trade relations between Sicily, Ifrīqiya, and Egypt under the Fatimids and Zirids of Ifrīqiya (tenth–eleventh centuries) (pp. 93–109). https://doi.org/10.1007/978-3-031-04915-6_6

Brockopp, J. E. (2011). Contradictory evidence and the exemplary scholar: The lives of Sahnun b. Sa'id (d. 854). International Journal of Middle East Studies, 43(1), 115–132. https://doi.org/10.1017/s0020743810001224

Fenwick, C. G. (2022). How to found an Islamic state: The Idrisids as rivals to the Abbasid Caliphate in the far Islamic west (pp. 91–116). https://doi.org/10.1163/9789004525245_006

Fenwick, C. G. (2023). Conquest to conversion. Journal of Islamic Archaeology, 9(2). https://doi.org/10.1558/jia.25866

Fernández, L. A. (2016). The riḥla: A trip to Arab–Norman Palermo – a story of a Mediterranean koine by way of two buildings. https://doi.org/10.2495/iha160161

Gordon, M. (2022). Review of Anderson, Fenwick, & Rosser-Owen (eds.), The Aghlabids and their neighbors. Al-ʿUṣūr al-Wusṭā, 30. https://doi.org/10.52214/uw.v30i.10273

Hasan, A., Mathari, N. N., Kamelia, M., & Darwis, R. (2023). Economic glory of the early Islamic dynasties in Sicily, Italy. International Journal of Medical Science and Health Research, 7(4), 232–241. https://doi.org/10.51505/ijebmr.2023.7818

Hermes, N. F. (2017). "It eclipsed Cairo and outshone Baghdad!": Ibn Rashīq's elegy for the city of Qayrawan. Journal of Arabic Literature, 48(3), 270–297. https://doi.org/10.1163/1570064x-12341349

Hinzen, K., Meghraoui, M., Bahrouni, N., Houla, Y., & Reamer, S. K. (2021). Archaeoseismological study of the Cherichira aqueduct bridge, Kairouan, Tunisia. Mediterranean Geoscience Reviews, 3(4), 403–430. https://doi.org/10.1007/s42990-021-00062-9

Kennedy, H. (2018). The origins of the Aghlabids (pp. 31–48). https://doi.org/10.1163/9789004356047_003

Merkel, S., Oravisjärvi, J., & Kershaw, J. (2023). Sources of early Islamic silver: Lead isotope analysis of dirhams. Antiquity, 97(396), 1564–1580. https://doi.org/10.15184/aqy.2023.165

Moreno, E. M. (2015). Why did Islamic medieval institutions become so different from Western medieval institutions? (Power and Institutions in Medieval Islam and Christendom PIMIC). Medieval Worlds, 1, 118–137. https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no1_2015s118

Occari, V., Møller, H., Fenwick, C. G., Quinn, P., Freestone, I. C., Chaouali, M., & von Rummel, P. (2024). The technology of polychrome glazed ceramics in Ifriqiya: New data from the site of Chimtou. Archaeological and Anthropological Sciences, 16(4). https://doi.org/10.1007/s12520-024-01974-x

Salinas, E., Reynolds, P. F., & Pradell, T. (2022). Technological changes in the glazed wares of northern Tunisia in the transition from Fatimid to Zirid rule. Archaeological and Anthropological Sciences, 14(12). https://doi.org/10.1007/s12520-022-01690-4

Salinas, E., Reynolds, P. F., Tite, M. S., & Pradell, T. (2020). Polychrome glazed ware production in Tunisia during the Fatimid-Zirid period: New data on the question of the introduction of tin glazes in western Islamic lands. Journal of Archaeological Science Reports, 34, 102632. https://doi.org/10.1016/j.jasrep.2020.102632

Sciau, Ph., Noé, L., & Colomban, P. (2016). Metal nanoparticles in contemporary potters' master pieces: Lustre and red "pigeon blood" potteries as models to understand the ancient pottery. Ceramics International, 42(14), 15349–15357. https://doi.org/10.1016/j.ceramint.2016.06.179

Staëvel, J.-P. V. (2023). Ribât in early Islamic Ifrîqiya: Another Islam from the edge. Religions, 14(8), 1051. https://doi.org/10.3390/rel14081051

Steinacher, R., & Margreiter, P. (2022). Africa 500–1000: Introduction. Medieval Worlds, 16, 3–25. https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no16_2022s3

Tedesco, P. (2022). Africa's transitions to the Middle Ages. Medieval Worlds, 16, 129–140. https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no16_2022s129

Tumiran, S. N., & Baharudin, A. M. (2019). Ibrahim bin al-Aghlab: Charisma and contributions towards the Aghlabids dynasty (pp. 554–560). https://doi.org/10.15405/epsbs.2019.09.61

Valero, C. D. (1996). El arte de Ifriqīya y sus relaciones con distintos ámbitos del Mediterráneo: al-Andalus, Egipto y Sicilia. Al-Qanṭara, 17(2), 291. https://doi.org/10.3989/alqantara.1996.v17.i2.551