Islamologics



 Formulir Data Penulis Buku

Isi formulir ini bagi Anda yang ingin menerbitkan buku di Kami 

 Layanan Penerbitan ISBN Buku

Informasi mengenai biaya penerbitan ISBN resmi terdaftar di Perpusnas dan Internasional (mulai harga Rp300.000,-)

 Layanan Konversi Hasil Penelitian, PkM, Skripsi, Tesis, & Disertasi menjadi Buku

Informasi untuk Anda yang ingin mengkonversi karya ilmiah menjadi sebuah buku referensi/monograf ber-ISBN (mulai harga Rp500.000,-)

 Layanan Pengurusan HaKI Karya Ilmiah

Informasi untuk Anda yang ingin membuat HaKI di Kami (mulai harga Rp350.000,-)

 Layanan Indeksasi Google Play Books

Informasi untuk Anda yang ingin buku terbitannya terindeks di Google Books sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp100.000,-)

 Layanan Penambahan Sitasi Artikel di Google Scholar

Informasi untuk Anda yang memiliki artikel ilmiah (Jurnal, Buku, Skripsi, Tesis, & Disertasi dll), dan ingin ditambah sitasinya sehingga H-Index Google Scholar Anda naik (mulai harga Rp20.000,-)

 Layanan Indeksasi Artikel Bebas, Opini, Catatan Akademik di Google Scholar

Informasi untuk Anda yang memiliki artikel bebas, opini, catatan akademik/kuliah, Skripsi, Tesis, Disertasi dll, dan ingin terindeks Google Scholar secara otomatis (tidak manual) sehingga mudah di-sitasi dan dibaca secara global (mulai harga Rp50.000,-)

 Hubungi Kami: Klik Disini (Nindi)

Hubungi narahubung Kami untuk pembelian buku-buku terbitan Kami

Abstract

The Seljuk Dynasty was one of the greatest political and military powers in medieval Islamic history, playing a significant role not only in military and religious domains but also in shaping a complex and influential economic system across the Middle East, Central Asia, and Anatolia. This study comprehensively examines the economic system of the Seljuk Dynasty, covering its structural foundations, land and fiscal systems, trade and caravan networks, economic institutions, and its long-term impact on Islamic civilization. The Seljuk economic system represented a creative synthesis of Turkish nomadic traditions, Persian administrative heritage, and Islamic economic principles. The iqta system, karavanserai networks, urban market regulation, the waqf institution, and the Nizamiyya Madrasa constituted the main pillars of the Seljuk economy. Despite structural weaknesses, including political fragmentation and the devastating Mongol invasions, the Seljuk economic legacy endured significantly through the Ottoman Empire's adoption of Seljuk institutions, particularly the timar system, accounting methods, and educational frameworks.




Keywords: Seljuk Dynasty, iqta system, karavanserai, waqf, Islamic economic history, Ottoman legacy




Abstrak

Daulah Saljuk merupakan salah satu kekuatan politik dan militer terbesar dalam sejarah Islam abad pertengahan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam bidang militer dan keagamaan, tetapi juga dalam pembentukan sistem perekonomian yang kompleks dan berpengaruh di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, dan Anatolia. Kajian ini mengkaji secara komprehensif sistem perekonomian Daulah Saljuk, yang mencakup fondasi struktural, sistem pertanahan dan fiskal, perdagangan dan jaringan kafilah, institusi ekonomi, serta dampak jangka panjangnya terhadap peradaban Islam. Sistem perekonomian Saljuk merupakan sintesis kreatif antara tradisi nomadik Turki, warisan administratif Persia, dan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Sistem iqta, jaringan karavanserai, regulasi pasar urban, institusi waqf, dan Madrasah Nizamiyah menjadi pilar utama perekonomian Saljuk. Meskipun mengandung kelemahan struktural berupa fragmentasi politik dan invasi Mongol yang menghancurkan, warisan ekonomi Saljuk tetap hidup secara signifikan melalui adopsi Kekaisaran Ottoman atas institusi-institusi Saljuk, khususnya sistem timar, metode akuntansi, dan kerangka pendidikan.




Kata Kunci: Daulah Saljuk, sistem iqta, karavanserai, waqf, sejarah ekonomi Islam, warisan Ottoman




1. Pendahuluan

Daulah Saljuk merupakan salah satu kekuatan politik dan militer terbesar dalam sejarah Islam abad pertengahan, yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam bidang militer dan keagamaan, tetapi juga dalam pembentukan sistem perekonomian yang kompleks dan berpengaruh di kawasan Timur Tengah, Asia Tengah, dan Anatolia. Didirikan oleh suku Oghuz Turki yang memeluk Islam, Daulah Saljuk berkembang dari kekuatan nomadik menjadi sebuah imperium yang mengintegrasikan tradisi administrasi Persia, hukum Islam, dan warisan budaya Turki ke dalam satu sistem pemerintahan yang kohesif (HAMIDOVA, 2022). Keberhasilan Saljuk dalam membangun sistem perekonomian yang stabil merupakan hasil dari perpaduan antara kebijakan fiskal yang terstruktur, sistem pertanahan yang inovatif, jaringan perdagangan yang luas, serta institusi-institusi sosial-ekonomi yang mendukung kehidupan urban dan rural secara bersamaan.

Sejarawan seperti Ann K.S. Lambton telah memberikan perhatian khusus terhadap sejarah administratif, ekonomi, dan sosial Persia, terutama pada masa Saljuk, yang mencakup sistem kepemilikan tanah dan administrasi pendapatan tanah (Morgan, 2011). Kajian-kajian ini menunjukkan bahwa sistem perekonomian Saljuk bukan sekadar warisan dari dinasti-dinasti sebelumnya, melainkan merupakan sebuah sintesis kreatif yang menghasilkan model pemerintahan yang kemudian menjadi acuan bagi Kekaisaran Ottoman (KUZAKÇI, 2022). Artikel ini akan mengkaji secara komprehensif berbagai aspek sistem perekonomian Daulah Saljuk, mulai dari fondasi strukturalnya, sistem pertanahan dan fiskal, perdagangan dan jaringan kafilah, institusi ekonomi, hingga dampak jangka panjangnya terhadap peradaban Islam.




2. Latar Belakang Historis dan Fondasi Ekonomi Daulah Saljuk

2.1 Asal-Usul dan Transisi dari Nomadisme ke Kehidupan Urban

Saljuk berasal dari konfederasi suku Oghuz yang mendiami wilayah di sekitar Laut Aral dan Sungai Syr Darya. Proses pembentukan negara Oghuz Yabgu dengan pusat politiknya di hilir Sungai Syr Darya memainkan peranan penting dalam perkembangan awal komunitas ini (Mensitova et al., 2022). Pada abad ke-10 hingga ke-11, proses pembentukan suku-suku Oghuz sedang berlangsung di Asia Tengah, disertai dengan disintegrasi ikatan kekerabatan dan munculnya bentuk-bentuk kenegaraan baru yang didasarkan pada ikatan teritorial dan ekonomi (Mensitova et al., 2022).

Transisi dari kehidupan nomadik ke kehidupan urban merupakan salah satu perubahan paling fundamental yang dialami oleh bangsa Saljuk. Kedatangan dinasti Saljuk secara signifikan memperbesar jumlah kelompok keluarga di Iran pada abad ke-11, namun tanpa menyebabkan perubahan vital dalam organisasi sosial dan politiknya (SOLTANI & REZAEI, 2019). Para Saljuk adalah Muslim dan dengan cepat beradaptasi dengan budaya dan masyarakat Persia (SOLTANI & REZAEI, 2019). Adaptasi ini sangat penting bagi perkembangan ekonomi mereka, karena memungkinkan mereka untuk mengintegrasikan sistem administrasi Persia yang sudah mapan ke dalam struktur pemerintahan mereka.

Melalui kontak dekat dengan kehidupan istana Persia di Khorasan dan Transoxania, para Saljuk juga berhasil menarik sekelompok administrator yang cakap (Teng, n.d.). Hal ini memungkinkan mereka untuk membangun fondasi administratif yang kuat bagi sistem perekonomian mereka. Proses pembentukan dan pengembangan sistem negara Oghuz mencapai puncaknya pada masa Togrul Bey (1038–1063), ketika Oghuz menyelesaikan penaklukan Khorezm, Khorasan, dan wilayah Iran barat, serta pada tahun 1055 menundukkan Baghdad (Mensitova et al., 2022).




2.2 Warisan Administratif dan Ekonomi dari Dinasti Sebelumnya

Sistem perekonomian Saljuk tidak lahir dalam ruang hampa, melainkan mewarisi dan mengembangkan tradisi-tradisi dari dinasti-dinasti yang mendahuluinya. Struktur negara Saljuk Agung memanfaatkan tradisi negara Kok Turki dan Ghaznavid, serta tetap setia pada tradisi organisasi negara Oghuz sebagai sistem pemerintahan baru (HAMIDOVA, 2022). Institusi vizier Saljuk Agung, yang merupakan tulang punggung organisasi pemerintahan, merupakan institusi paling berpengaruh dari Kekhalifahan Arab dan negara Ghaznavid (HAMIDOVA, 2022).

Sistem administrasi sipil Saljuk mendapat manfaat dari bentuk-bentuk pemerintahan yang mendahuluinya, baik di Asia Tengah maupun di Timur Tengah (HAMIDOVA, 2022). Namun demikian, perlu dicatat bahwa sistem ini tetap terbentuk selama periode Saljuk itu sendiri, menunjukkan adanya inovasi dan adaptasi yang signifikan. Warisan ekonomi dari Kekhalifahan Abbasiyah juga sangat penting; sistem akuntansi yang dikenal sebagai metode Merdiban, yang dikembangkan dalam tradisi fiskal Timur Tengah, memiliki akar yang dapat ditelusuri kembali ke era Saljuk dan Abbasiyah (Güvemli, 2011).




3. Sistem Pertanahan: Iqta sebagai Pilar Ekonomi

3.1 Pengertian dan Struktur Sistem Iqta

Salah satu institusi ekonomi paling penting dalam Daulah Saljuk adalah sistem iqta, yaitu sistem pembagian tanah untuk pelayanan militer. Sistem iqta merupakan dasar dari praktik ekonomi Saljuk dan Ottoman (Göksel & Avcı, 2023). Dalam sistem ini, tanah-tanah didistribusikan kepada para pejabat militer dan sipil sebagai imbalan atas layanan mereka kepada negara, bukan sebagai kepemilikan permanen, melainkan sebagai hak pengelolaan sementara yang dapat dicabut.

Distribusi tanah kepada kerabat, serta kepada pejuang terkemuka dan perwakilan bangsawan lainnya, berkontribusi pada fakta bahwa tanah-tanah ini mulai diwariskan, yang juga menjadi dasar bagi runtuhnya aparatur negara yang tersentralisasi (HAMIDOVA, 2022). Ini menunjukkan bahwa sistem iqta, meskipun awalnya dirancang sebagai mekanisme kontrol terpusat, pada akhirnya mengandung benih-benih desentralisasi yang berpotensi melemahkan kekuasaan pusat.

Salah satu kelemahan yang melekat dalam sistem pemerintahan Saljuk adalah pembagian yang muncul setelah penyebaran sistem iqta militer (pembagian tanah untuk pelayanan militer) dengan gagasan kekuasaan Turki, di mana anggota dinasti dianggap berhak atas kekuasaan (HAMIDOVA, 2022). Carla L. Klausner menggambarkan struktur politik Saljuk sebagai "kediktatoran berdasarkan struktur militer ganda dengan budak Turki dan Turkmen, yang diperintah oleh orang-orang Khorasan dan diterima oleh mayoritas rakyat" (HAMIDOVA, 2022).




3.2 Dampak Sistem Iqta terhadap Perekonomian

Sistem iqta memiliki dampak yang kompleks terhadap perekonomian Saljuk. Di satu sisi, sistem ini memungkinkan negara untuk membiayai angkatan bersenjata yang besar tanpa harus mengeluarkan kas negara secara langsung. Di sisi lain, sistem ini menciptakan kelas penguasa tanah yang memiliki kepentingan ekonomi tersendiri yang kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan negara pusat.

Dalam konteks Armenia, misalnya, di bawah Malik Shah (memerintah 1072–1092), pola perpajakan dan kepemilikan tanah di Armenia diatur ulang sesuai dengan model Saljuk yang berkembang (Franklin, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa sistem iqta diterapkan secara konsisten di seluruh wilayah kekaisaran, meskipun dengan adaptasi lokal yang diperlukan.

Sistem iqta Saljuk kemudian menjadi model bagi sistem timar Ottoman. Para sejarawan Ottoman telah menetapkan silsilah Islam dari timar dalam institusi iqta kekaisaran Saljuk dan Islam sebelumnya (Howard, 2017). Fuat Köprülü berpendapat bahwa anteseden timar terletak pada periode Saljuk dan beylik (Howard, 2017), menunjukkan kontinuitas institusional yang penting antara sistem ekonomi Saljuk dan Ottoman.




3.3 Kepemilikan Tanah dan Pertanian

Pertanian merupakan tulang punggung ekonomi Saljuk, sebagaimana halnya dengan sebagian besar peradaban pra-modern. Sistem kepemilikan tanah yang dikembangkan oleh Saljuk mencerminkan perpaduan antara tradisi nomadik dan kebutuhan ekonomi agraris dari wilayah-wilayah yang mereka taklukkan. Dalam budaya sedentari dengan ekonomi pertanian seperti Iran, Mesir, atau Kekaisaran Romawi, mayoritas penduduk terikat pada tanah (Atik, 2022).

Kontribusi nomad terhadap ekonomi secara keseluruhan sangat penting dan mengarah pada simbiosis yang layak dalam masyarakat Saljuk, dan kemudian dalam masyarakat Ottoman (İnalcık, 2014). Para Yörük (Türkmen), yang merupakan cabang dari kelompok Oghuz yang menyerbu Asia Minor dari tahun 1020-an, memainkan peran penting dalam ekonomi pertanian dan peternakan Saljuk (İnalcık, 2014). Pemerintah pusat Saljuk biasa menempatkan mereka di perbatasan-perbatasan Romawi Timur (İnalcık, 2014).




4. Sistem Fiskal dan Perpajakan

4.1 Struktur Perpajakan Saljuk

Sistem perpajakan merupakan komponen kritis dari perekonomian Saljuk. Vizier memegang posisi gubernur di berbagai wilayah Kekaisaran Saljuk, dan dengan peran-peran ini, mereka memberikan pengaruh atas administrasi lokal serta menjalankan fungsi-fungsi penting seperti pemungutan pajak, penegakan keadilan, dan pemastian keamanan (BAYIR & CİĞER, 2023). Selain itu, mereka mengawasi anggaran wilayah yang mereka layani, mengendalikan pendapatan dan pengeluaran, serta memainkan peran dalam implementasi kebijakan fiskal (BAYIR & CİĞER, 2023).

Pendapatan ekonomi diikat pada pajak yang dikumpulkan, sistem iqta, dan tenaga kerja manual dari guild, serta sirkulasi produksi pertanian dari tangan ke tangan, yang merupakan dasar dari praktik ekonomi Saljuk dan Ottoman (Göksel & Avcı, 2023). Sistem ini mencerminkan pendekatan yang komprehensif terhadap pengelolaan sumber daya ekonomi, di mana berbagai sumber pendapatan diintegrasikan ke dalam satu kerangka fiskal yang kohesif.

Dalam konteks Armenia di bawah administrasi Saljuk, pola perpajakan diatur ulang sesuai dengan model Saljuk yang berkembang (Franklin, 2021a). Hal ini menunjukkan bahwa Saljuk menerapkan sistem perpajakan yang relatif seragam di seluruh wilayah kekaisaran mereka, meskipun dengan penyesuaian terhadap kondisi lokal.




4.2 Peran Vizier dalam Administrasi Fiskal

Institusi vizier memainkan peran sentral dalam administrasi fiskal Daulah Saljuk. Vizier bertanggung jawab untuk memberikan nasihat kepada sultan, membentuk kebijakan negara, menegakkan hukum, dan mengorganisir urusan birokrasi (BAYIR & CİĞER, 2023). Sementara mengimplementasikan keputusan sultan, vizier juga memberikan saran dan bimbingan dalam berbagai hal, termasuk masalah fiskal dan ekonomi.

Nizam al-Mulk, vizier paling terkenal dari Daulah Saljuk, memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan sistem administrasi dan ekonomi Saljuk. Melalui risalah politiknya yang dikompilasi dari sumber-sumber Islam, ia membangun sistem yang terorganisir dengan baik dalam tradisi negara Turki (BAYIR & CİĞER, 2023). Nizam al-Mulk juga merupakan inisiator pendirian Madrasah Nizamiyah (1065 M), yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan tetapi juga sebagai institusi yang mendukung stabilitas sosial dan ekonomi (Gofur, 2023).

Khawaja Amid al-Mulk Kondori, vizier paling terkenal dari Sultan Saljuk Toghtol, juga memainkan peran penting dalam pengembangan dan stabilitas kekuasaan Saljuk (Foroozani, 2019). Kaum bangsawan Nishapur yang bergabung dengan Saljuk kemungkinan besar telah memberikan nasihat kepada Toghrol mengenai kebijakan administratif dan politik dari rezim Islam (Foroozani, 2019). Hal ini menunjukkan bahwa sistem administrasi fiskal Saljuk sangat dipengaruhi oleh tradisi administratif Iran yang sudah mapan.




4.3 Kebijakan Fiskal dan Stabilitas Ekonomi

Kebijakan fiskal Saljuk dirancang untuk mendukung stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi. Persatuan politik dan integritas teritorial melalui sentralisasi kekuasaan, istana yang megah dan agung, serta penyerahan delegasi negara mengenai urusan administratif kepada seorang menteri berpengalaman yang disebut vizier, merupakan di antara instruksi menteri-menteri Iran kepada Sultan Saljuk (Foroozani, 2019).

Namun demikian, sistem fiskal Saljuk juga menghadapi tantangan-tantangan serius. Distribusi tanah kepada kerabat dan pejabat militer menciptakan tekanan pada pendapatan negara pusat. Selain itu, biaya militer yang besar untuk mempertahankan kekaisaran yang luas juga memberikan beban yang signifikan pada keuangan negara. Kelemahan-kelemahan ini pada akhirnya berkontribusi pada fragmentasi kekaisaran Saljuk.




5. Perdagangan dan Jaringan Kafilah

5.1 Peran Perdagangan dalam Ekonomi Saljuk

Perdagangan merupakan salah satu pilar utama perekonomian Saljuk. Wilayah kekaisaran Saljuk yang membentang dari Asia Tengah hingga Anatolia menempatkannya di persimpangan jalur-jalur perdagangan utama yang menghubungkan Timur dan Barat. Kota-kota seperti Isfahan, Merv, Nishapur, Baghdad, dan lainnya merupakan pusat administratif dan budaya kekaisaran (Ahadi et al., 2024), sekaligus menjadi pusat-pusat perdagangan yang penting.

Merv, sebagai ibu kota Khorasan, mencapai kejayaan tertingginya pada masa Saljuk Agung, terutama selama pemerintahan Sultan Ahmad Sanjar (1118–1157) (KHODJANIYAZOV & Kurbanov, 2021). Pada era Saljuk (abad ke-11 hingga ke-12), Merv mencapai perkembangan tertingginya (KHODJANIYAZOV & Kurbanov, 2021). Kota ini berfungsi sebagai pusat perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah kekaisaran dan jalur perdagangan internasional.

Penyerahan kota-kota besar Khorasan kepada saudara-saudara Saljuk, Tughril dan Chaghrī Beg ibn Dā'ūd, membuka jalan menuju wilayah-wilayah barat dunia Iran dan pesisirnya, memberikan kehidupan pada rencana-rencana maritim Saljuk yang ambisius (Fiorani, 2023). Hal ini menunjukkan bahwa Saljuk tidak hanya berfokus pada perdagangan darat, tetapi juga memiliki ambisi dalam perdagangan maritim.




5.2 Sistem Karavanserai sebagai Infrastruktur Perdagangan

Salah satu kontribusi terpenting Saljuk terhadap sistem perdagangan adalah pembangunan jaringan karavanserai yang luas. Tradisi pembangunan karavanserai di Armenia abad pertengahan tinggi terkait erat dengan budaya patronase dan kesalehan yang dipraktikkan di seluruh Kaukasus tengah dan Anatolia di bawah Kekaisaran Saljuk (abad ke-11 hingga ke-12) (Franklin, 2021c).

Para sultan Rum Saljuk dari tahun 1155 hingga 1237 mengambil langkah-langkah untuk menghasilkan dan melindungi perdagangan melalui Anatolia, memberikan jaminan kepada para pelancong dari perampokan dan penyerangan di sepanjang jalan raya yang menghubungkan Mediterania (Franklin, 2021a). Ahmet Ertug berpendapat bahwa para sultan Rum Saljuk mendirikan han-han yang dikendalikan negara di sepanjang rute Konya–Kayseri–Sivas untuk mengembangkan Sivas sebagai pusat perdagangan, menjadikannya lebih menarik bagi faktor-faktor perdagangan Genoa (Franklin, 2021a).

Menurut Semra Ogel, sistem karavanserai Saljuk mewujudkan "kebijakan ekonomi yang pasti" pada skala regional, sebuah kebijakan di mana para sultan dan emir Saljuk mempertimbangkan kedalaman waktu (Franklin, 2021a). Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan karavanserai bukan sekadar tindakan amal atau kesalehan, melainkan merupakan bagian dari strategi ekonomi yang terencana dan sistematis.




5.3 Perdagangan Internasional dan Hubungan Ekonomi Lintas Batas

Daulah Saljuk memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan internasional yang menghubungkan berbagai peradaban. Hubungan ekonomi antara Saljuk dan Georgia, misalnya, merupakan bagian penting dari dinamika perdagangan regional. Dampak historis Kekaisaran Saljuk dan Ottoman terhadap pertumbuhan ekonomi Georgia sebagai mitra dagang di Laut Hitam, Kaukasus, dan Mediterania patut dicatat (Şeker, 2023).

Karpet dan permadani Türkmen sangat berharga dan telah diekspor ke Barat dan ke negara-negara Muslim sejak abad ke-13 (İnalcık, 2014). Ini menunjukkan bahwa produk-produk kerajinan dari wilayah Saljuk memiliki pasar internasional yang luas, dan perdagangan tekstil merupakan salah satu komponen penting dari ekonomi ekspor Saljuk.

Dalam konteks yang lebih luas, Saljuk berada dalam sistem perdagangan pan-Eurasia yang menghubungkan berbagai peradaban dari Cina hingga Eropa. Sistem politik internasional Eurasia dan sistem perdagangan maritim pan-Eurasia abad pertengahan membentuk konteks di mana ekonomi Saljuk beroperasi (Teng, n.d.).




6. Urbanisasi dan Ekonomi Perkotaan

6.1 Perkembangan Kota-Kota Saljuk

Urbanisasi merupakan salah satu aspek paling signifikan dari perkembangan ekonomi Saljuk. Ketika Saljuk mulai mengurbanisasi, salah satu elemen terpenting yang perlu ditekankan terkait olahraga adalah bahwa mereka mendirikan dan mengoperasikan institusi-institusi Gök Meydan dan Spor Medresesi yang memiliki karakteristik sebagai lembaga pendidikan (KEPOĞLU, 2019). Ini menunjukkan bahwa urbanisasi Saljuk tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup pembangunan institusi-institusi sosial dan ekonomi yang mendukung kehidupan urban.

Pertumbuhan sistem produksi komoditas dan pengembangan sektor ekonomi kota serta hubungan sosial memerlukan ruang dan struktur fisik yang sesuai dengan kondisi baru (Saadati et al., 2021). Dalam kasus kota Rey, misalnya, selama periode Saljuk, ruang fisik yang diperlukan untuk perluasan kegiatan dan pemukiman kelompok-kelompok yang berkembang dari ekonomi urban diperluas di area Rabaz (Saadati et al., 2021). Area Rabaz Rey, yang dapat merespons kondisi baru, berkembang sangat cepat dan menjadi inti utama ruang urban periode Saljuk (Saadati et al., 2021).

Kota-kota seperti Kerman, Isfahan, Merv, Neyshabur, Herat, dan Ray merupakan pusat komunitas seni dan kerajinan selama periode Saljuk (Jamshid & Moqimizade, 2019). Konsentrasi kegiatan ekonomi di kota-kota ini mencerminkan tingkat urbanisasi dan spesialisasi ekonomi yang tinggi dalam kekaisaran Saljuk.




6.2 Pasar dan Regulasi Ekonomi Urban

Regulasi pasar merupakan aspek penting dari ekonomi urban Saljuk. Berdasarkan panegyrik Saljuk, sementara otoritas Sultan diperluas kepada muhtasib (pengawas pasar), individu-individu yang tidak berwenang tidak lagi diizinkan untuk menjalankan peran publik dalam memerintahkan kebaikan (Selçuk, 2021). Kekuatan hukuman muhtasib Saljuk diperluas, karena mereka sekarang diizinkan untuk menggunakan parade yang memalukan serta hukuman "statutori" (hadd) dan hukuman diskresioner (Selçuk, 2021).

Sebuah dewan inspeksi pasar muncul di bawah Rum-Saljuk (Selçuk, 2021). Hal ini menunjukkan bahwa Saljuk mengembangkan sistem regulasi pasar yang terstruktur, yang kemudian diwarisi dan dikembangkan lebih lanjut oleh Kekaisaran Ottoman. Muhtesib berfungsi sebagai agen fiskal sekaligus bagian dari inspeksi dan organisasi manufaktur oleh produsen lokal (Selçuk, 2021).

Isu ekonomi moral terkait dengan gagasan "kepercayaan"; oleh karena itu, pemimpin dan otoritas yang memberlakukan aturan pada pasar urban cenderung memiliki legitimasi spiritual dan sumber karisma berdasarkan otoritas spiritual mereka baik dalam era Kristen maupun Muslim di Anatolia ("Untitled," 2021). Hal ini menunjukkan bahwa regulasi ekonomi Saljuk tidak dapat dipisahkan dari dimensi moral dan keagamaannya.




6.3 Kelas Menengah dan Dinamika Sosial-Ekonomi

Perkembangan kelas menengah merupakan salah satu fenomena paling signifikan dalam ekonomi urban Saljuk. Akses publik terhadap seni dan kecenderungan untuk menggambarkan subjek-subjek sehari-hari dan realistis setelah pertumbuhan kelas menengah, serta faktor-faktor seperti urbanisasi, perdagangan, status ekonomi, orientasi keagamaan penguasa, dan kemunculan seni realistis dan populer di antara kelas menengah, merupakan salah satu faktor terpenting yang memengaruhi perkembangan dan evolusi tembikar pada periode yang diteliti (Pourmahmoud et al., 2022).

Dalam periode Saljuk, sebuah kelas baru diciptakan di kota-kota dalam hal konstruksi sosial (Pourmahmoud et al., 2022). Kelas ini terdiri dari pedagang, pengrajin, dan profesional yang memainkan peran penting dalam ekonomi urban. Kemunculan kelas menengah ini memiliki implikasi yang luas bagi perkembangan ekonomi, karena menciptakan permintaan baru untuk barang-barang dan jasa-jasa, serta mendorong inovasi dalam produksi dan perdagangan.




7. Institusi Ekonomi dan Sosial

7.1 Madrasah Nizamiyah sebagai Institusi Ekonomi-Sosial

Madrasah Nizamiyah, yang didirikan atas inisiatif Nizam al-Mulk, merupakan salah satu institusi paling penting dalam sistem ekonomi-sosial Saljuk. Dari tahun 1070-an, Saljuk memberikan layanan pendidikan umum dan formal yang dibiayai oleh negara di berbagai bidang spesialisasi, sesuai dengan sistem kursus berkredit (KEPOĞLU, 2019). Madrasah-madrasah ini tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat-pusat yang mendukung stabilitas sosial dan ekonomi kekaisaran.

Madrasah Nizamiyah ditetapkan sebagai faktor atau institusi utama yang memengaruhi kehidupan budaya Saljuk (KUZAKÇI, 2022). Warisan budaya luar biasa dari Kekaisaran Saljuk Agung adalah bahwa ia menjadi contoh bagi Kekaisaran Ottoman, yang mewarisi warisannya dengan menyajikan model kekaisaran abad pertengahan klasik dengan karakter kosmopolitannya, tradisi birokrasi, rezim tanah, hukum, dan sistem pendidikan (KUZAKÇI, 2022).

Institusionalisasi ilmu pengetahuan selama periode ini merupakan salah satu aspek paling menarik dan rumit dalam sejarah ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam (İhsanoğlu, n.d.). Proses transformasi dari hubungan guru-murid pribadi ke model institusional dalam madrasah-madrasah Turki pra-Ottoman dan Ottoman menunjukkan bagaimana Saljuk berkontribusi pada pengembangan infrastruktur intelektual yang mendukung pertumbuhan ekonomi.




7.2 Waqf sebagai Instrumen Ekonomi

Sistem waqf (wakaf) merupakan instrumen ekonomi yang penting dalam Daulah Saljuk. Fondasi-fondasi saleh yang didirikan terutama untuk tujuan keagamaan dan sosial ada di hampir setiap periode di Anatolia (Akar, 2021). Fondasi-fondasi ini mencakup masjid, madrasah, atau kompleks bangunan (külliye) pada periode Saljuk dan Ottoman (Akar, 2021).

Sebuah waqfiyya adalah dokumen hukum yang mencakup dekrit dan aturan yang ditetapkan oleh pendiri untuk administrasi waqf, dan menyatakan validitas yayasan setelah ditandatangani oleh saksi-saksi dan disetujui oleh hakim distrik baik di Saljuk maupun Ottoman (Akar, 2021). Sistem waqf memungkinkan akumulasi dan pengelolaan kekayaan untuk tujuan-tujuan sosial dan keagamaan, sekaligus menyediakan layanan-layanan publik yang penting seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.




7.3 Gök Meydan dan Institusi Olahraga sebagai Komponen Ekonomi

Gök Meydan (Alun-alun Langit) merupakan institusi unik dalam sistem sosial-ekonomi Saljuk. Dalam kosmologi periode Daulah Saljuk, Gök Meydan menyediakan empat elemen dasar, yaitu: ekonomi, pendidikan jasmani militer, sosialisasi, dan olahraga (Kepoglu, 2020). Institusi-institusi ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan fisik dan militer, tetapi juga sebagai pusat-pusat ekonomi dan sosial yang penting.

Pemerintah Kekaisaran Saljuk bertindak sesuai dengan prinsip "kemakmuran maksimum, tetapi dengan efisiensi maksimum" (Kepoglu, 2020). Prinsip ini mencerminkan pendekatan yang rasional dan terencana terhadap pengelolaan sumber daya ekonomi. Gök Meydan dan lodge olahraga menonjol sebagai organisasi olahraga yang efektif dalam Kekaisaran Saljuk, dan merupakan institusi yang menyediakan layanan militer dan sosio-kultural dalam struktur periode tersebut (Kepoglu, 2020).




8. Kerajinan, Industri, dan Produksi

8.1 Perkembangan Kerajinan dan Seni

Kerajinan dan seni merupakan komponen penting dari ekonomi Saljuk. Selama periode Saljuk, seni Iran mengambil langkah besar dan sejarah seni Iran menghabiskan salah satu periode paling cemerlangnya pada era ini (Jamshid & Moqimizade, 2019). Kota-kota seperti Kerman, Isfahan, Merv, Neyshabur, Herat, dan Ray merupakan pusat komunitas seni dan kerajinan.

Dalam bidang kerajinan logam, Saljuk mencapai tingkat kecanggihan yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi dan ekspor pada era tersebut mendorong perkembangan kerajinan logam (Lar & Moradi, 2017). Namun, ketidakamanan dan runtuhnya sistem ekonomi pada akhir era ini menggerogoti proses tersebut baik dalam hal bentuk maupun produksi seni individual (Lar & Moradi, 2017).

Perkembangan tembikar juga mencerminkan dinamika ekonomi Saljuk. Pada akhir era Saljuk, tembikar yang dipoles dihistoriografi dan kemudian tembikar multikromatik diciptakan (Pourmahmoud et al., 2022). Salah satu efek cemerlang di antara tembikar ini adalah karya-karya yang dihiasi dengan glasir emas, yang lebih umum di Irak dan Mesir, dan datang ke Iran pada abad ke-6 AH (Pourmahmoud et al., 2022).




8.2 Industri Tekstil dan Perdagangan Karpet

Industri tekstil merupakan salah satu sektor ekonomi terpenting dalam Daulah Saljuk. Karpet dan permadani Türkmen sangat berharga dan telah diekspor ke Barat dan ke negara-negara Muslim sejak abad ke-13 (İnalcık, 2014). Desain suku dan regional membedakan produksi lokal, menunjukkan tingkat spesialisasi dan diferensiasi produk yang tinggi dalam industri tekstil Saljuk.

Kontribusi nomad terhadap ekonomi secara keseluruhan sangat penting dan mengarah pada simbiosis yang layak dalam masyarakat Saljuk (İnalcık, 2014). Para Yörük memainkan peran penting dalam transportasi, karena sebelum adanya kereta api, transportasi darat antara wilayah-wilayah sepenuhnya bergantung pada karavan unta Yörük (İnalcık, 2014). Hal ini menunjukkan bahwa sektor transportasi dan logistik merupakan komponen penting dari ekonomi Saljuk.




9. Peran Perempuan dalam Ekonomi Saljuk

9.1 Partisipasi Ekonomi Perempuan

Perempuan dalam masyarakat Saljuk memiliki peran yang lebih aktif dalam kehidupan ekonomi dibandingkan dengan yang sering diasumsikan. Selama periode Saljuk, perempuan juga terlibat dalam kegiatan budaya dan artistik serta mendirikan wakaf (Albayrak, 2023). Terutama dalam Negara Saljuk, perempuan memiliki jangkauan mobilitas yang luas dalam aspek politik, militer, ekonomi, budaya, keagamaan, dan sosial (Albayrak, 2023).

Perempuan dalam dinasti Saljuk secara aktif terlibat dalam kehidupan politik dan sosial. Mereka mendirikan sistem sosial dan militer mereka sendiri, memiliki kekayaan pribadi, dan menggunakannya sesuai kehendak bebas mereka (Albayrak, 2023). Kepemilikan dan pengelolaan kekayaan pribadi oleh perempuan menunjukkan bahwa mereka memiliki peran yang signifikan dalam ekonomi Saljuk.




9.2 Organisasi Bacıyan-ı Rum

Organisasi Bacıyan-ı Rum (Organisasi Saudari Anatolia) merupakan salah satu fenomena paling menarik dalam sejarah ekonomi-sosial Saljuk. Organisasi ini muncul selama periode Saljuk Anatolia pada abad ke-13 untuk mengorganisir dan mengembangkan perempuan (Bulut, 2021). Organisasi ini memiliki dimensi ekonomi yang penting, karena anggotanya terlibat dalam berbagai kegiatan produktif.

Selama masa Saljuk Sultan Melikşah, kata-kata istrinya, Terken Hatun, memiliki bobot dalam semua urusan negara (Albayrak, 2023). Eranya menyaksikan pendirian organisasi perempuan pertama yang disebut 'Bacıyan-ı Rum' (Albayrak, 2023). Organisasi ini tidak hanya memiliki signifikansi sosial dan politik, tetapi juga ekonomi, karena anggotanya terlibat dalam kegiatan-kegiatan produktif yang berkontribusi pada ekonomi kekaisaran.




10. Hubungan Ekonomi dengan Kekhalifahan Abbasiyah

10.1 Saljuk sebagai Pelindung Kekhalifahan

Hubungan antara Daulah Saljuk dan Kekhalifahan Abbasiyah memiliki dimensi ekonomi yang penting. Ketika Sultan Toghrol mengirim pasukan ke Baghdad dan bertempur melawan Arsalan Basasiri, ia mempertimbangkan untuk menyelamatkan Kekhalifahan Sunni Abbasiyah dari dominasi Kekhalifahan Fatimiyah Ismaili (Foroozani, 2019). Setelah Sultan Saljuk mengalahkan Arsalan Basasiri, ia mendapatkan posisi yang menguntungkan, tetapi kemudian secara bertahap mendominasi Khalifah Abbasiyah (Foroozani, 2019).

Hubungan ini memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Saljuk, sebagai pelindung Kekhalifahan Abbasiyah, mendapatkan legitimasi politik yang memungkinkan mereka untuk mengontrol jalur-jalur perdagangan utama dan memungut pajak dari wilayah-wilayah yang luas. Pada saat yang sama, Kekhalifahan Abbasiyah memberikan kerangka hukum dan administratif yang mendukung kegiatan ekonomi di seluruh dunia Islam.




10.2 Warisan Ekonomi Abbasiyah dalam Sistem Saljuk

Sistem ekonomi Saljuk banyak mewarisi dari tradisi Abbasiyah. Sistem akuntansi yang dikembangkan di Timur Tengah berlaku dalam negara Ilkhanate dan menghasilkan penggunaan metode Merdiban (Güvemli, 2011). Manual-manual ini dipuji sebagai bukti bahwa sistem akuntansi Ottoman berdiri dalam garis panjang sistem akuntansi pemerintahan di Timur Tengah yang kembali sebelum Ilkhanate ke Saljuk dan Abbasiyah (Güvemli, 2011).

Warisan ekonomi Abbasiyah dalam sistem Saljuk mencakup tidak hanya teknik-teknik akuntansi, tetapi juga prinsip-prinsip administrasi fiskal yang lebih luas. Sistem administrasi fiskal dan gaya akuntansi yang dikembangkan di Timur Tengah berlaku dalam negara Ilkhanate (Güvemli, 2011), yang pada gilirannya mewarisi banyak dari tradisi Saljuk.




11. Dampak Ekonomi dari Ekspansi Militer

11.1 Penaklukan dan Akumulasi Kekayaan

Ekspansi militer Saljuk memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Kemenangan di Dandanaqan memiliki implikasi yang signifikan bagi sejarah Turki-Islam dan dunia (Ahadi et al., 2024). Setelah kemenangan ini, Tughril Beg mendirikan Kekaisaran Saljuk Agung, yang membuka akses ke sumber-sumber kekayaan yang luas di Khorasan, Iran, dan Irak.

Penaklukan kota-kota besar Khorasan membuka jalan bagi saudara-saudara Saljuk menuju wilayah-wilayah barat dunia Iran dan pesisirnya (Fiorani, 2023). Ekspansi ini tidak hanya membawa kekayaan militer, tetapi juga mengintegrasikan wilayah-wilayah baru ke dalam jaringan ekonomi Saljuk, memperluas basis pajak dan sumber daya yang tersedia bagi kekaisaran.




11.2 Dampak Ekonomi dari Pertempuran Manzikert

Kemenangan Saljuk atas Kekaisaran Byzantium di dekat kota Manzikert pada tahun 1071 membuka Asia Minor untuk penaklukan dan pemukiman Turki (Max, 1968). Kemenangan ini memiliki implikasi ekonomi yang mendalam, karena membuka akses ke wilayah-wilayah yang kaya dan jalur-jalur perdagangan yang penting di Anatolia.

Kekaisaran Byzantium tidak menderita dari serangan berbahaya dari pihak Saljuk kecuali pada era Kaisar Constantine IX Monomachus (1042–1054 M) (Ebrahimi et al., 2015). Setelah Manzikert, Saljuk mampu mengintegrasikan wilayah-wilayah Anatolia ke dalam sistem ekonomi mereka, memanfaatkan infrastruktur dan jaringan perdagangan yang sudah ada.

Penaklukan Turki atas Anatolia juga menyebabkan perubahan signifikan dalam kondisi ekonomi kota-kota Anatolia (ALIÇ, 2022). Perubahan-perubahan ini mencakup restrukturisasi sistem perpajakan, reorganisasi jaringan perdagangan, dan integrasi ekonomi lokal ke dalam sistem ekonomi Saljuk yang lebih luas.




12. Kemunduran Ekonomi dan Faktor-Faktor Penyebabnya

12.1 Fragmentasi Politik dan Dampak Ekonominya

Fragmentasi politik merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan kemunduran ekonomi Saljuk. Distribusi tanah kepada kerabat, serta kepada pejuang terkemuka dan perwakilan bangsawan lainnya, berkontribusi pada fakta bahwa tanah-tanah ini mulai diwariskan, yang juga menjadi dasar bagi runtuhnya aparatur negara yang tersentralisasi (HAMIDOVA, 2022). Semua ini melemahkan kekuasaan terpusat dan, pada gilirannya, mengganggu sistem ekonomi yang bergantung pada administrasi terpusat yang efektif.

Ada pertumbuhan fragmentasi feodal, aspirasi separatis dari para vasal berkembang (HAMIDOVA, 2022). Pada saat yang sama, bagian-bagian signifikan dari wilayah dialokasikan kepada kerabat dan wilayah-wilayah ini kemudian menjadi kesultanan-kesultanan independen (HAMIDOVA, 2022). Fragmentasi ini mengganggu jaringan perdagangan dan sistem fiskal yang telah dibangun dengan susah payah oleh para sultan Saljuk awal.




12.2 Invasi Mongol dan Kehancuran Ekonomi

Invasi Mongol merupakan pukulan yang menghancurkan bagi sistem ekonomi Saljuk. Kemenangan mudah tentara Mongol di Kösedağ pada tahun 1243 menghancurkan otoritas Negara Saljuk Anatolia, yang merupakan kekuatan dominan di Anatolia pada saat itu, dan Anatolia berubah menjadi neraka penjarahan, perampasan, dan kekacauan (Karakök, 2021). Tekanan Mongol yang secara bertahap menetap di Anatolia menjauhkan rakyat Turki dari kehidupan makmur yang mereka jalani (Karakök, 2021).

Setelah kekalahan di Kösedağ, Saljuk Anatolia harus memberikan 10.000 domba, 1.000 sapi, dan berbagai hadiah lainnya selain 3.600.000 dirham tunai setiap tahun kepada Mongol (Alican, 2017). Beban ekonomi yang luar biasa ini secara efektif mengakhiri kemerdekaan ekonomi Saljuk Anatolia dan mengubahnya menjadi koloni ekonomi Mongol (Alican, 2017).

Invasi Mongol juga menghancurkan infrastruktur ekonomi yang telah dibangun oleh Saljuk. Banyak bangunan Merv dihancurkan, dan hingga saat ini hanya sedikit yang bertahan (KHODJANIYAZOV & Kurbanov, 2021). Kehancuran kota-kota dan infrastruktur perdagangan ini memiliki dampak jangka panjang yang mendalam terhadap perekonomian wilayah-wilayah yang pernah berada di bawah kekuasaan Saljuk.




13. Warisan Ekonomi Saljuk

13.1 Pengaruh terhadap Sistem Ekonomi Ottoman

Warisan ekonomi Saljuk terhadap Kekaisaran Ottoman sangat signifikan. Warisan budaya luar biasa dari Kekaisaran Saljuk Agung adalah bahwa ia menjadi contoh bagi Kekaisaran Ottoman, yang mewarisi warisannya dengan menyajikan model kekaisaran abad pertengahan klasik dengan karakter kosmopolitannya, tradisi birokrasi, rezim tanah, hukum, dan sistem pendidikan (KUZAKÇI, 2022). Kekaisaran Ottoman yang memodelkan struktur negara Saljuk mendominasi tiga benua dan menetapkan kedaulatan atas banyak bangsa dan budaya yang berbeda (Soydam & Ateş, 2024).

Sistem timar Ottoman, yang merupakan sistem pembagian tanah untuk pelayanan militer, memiliki akar yang jelas dalam sistem iqta Saljuk (Howard, 2017). Fuat Köprülü berpendapat bahwa anteseden timar terletak pada periode Saljuk dan beylik (Howard, 2017). Kontinuitas institusional ini menunjukkan betapa mendalamnya pengaruh sistem ekonomi Saljuk terhadap perkembangan ekonomi Ottoman.

Sistem akuntansi yang digunakan oleh Ottoman juga memiliki akar dalam tradisi Saljuk. Manual-manual akuntansi Ottoman dipuji sebagai bukti bahwa sistem akuntansi Ottoman berdiri dalam garis panjang sistem akuntansi pemerintahan di Timur Tengah yang kembali sebelum Ilkhanate ke Saljuk dan Abbasiyah (Güvemli, 2011).




13.2 Kontribusi terhadap Peradaban Islam

Kontribusi Daulah Saljuk terhadap peradaban Islam melampaui bidang ekonomi semata. Negara Saljuk Turki, sebagai tipe baru negara Islam, mewakili komunitas Sunni Ortodoks dalam aspek sosial dan budaya, dan mencapai keberhasilan besar dalam memodernisasi sistem kenegaraan di Asia Tengah, Timur Tengah, dan Asia Barat (HAMIDOVA, 2022). Sistem pemerintahan yang didirikan Saljuk dalam bidang institusi negara dan tata kelola memainkan peran penting dalam pengembangan sistem negara Muslim.

Saljuk mewarisi semua nilai budaya Khorasan dan dengan layak memperoleh status ini (Habib, 2023). Administrasi mereka di Asia Minor sangat mirip dengan administrasi mereka di Khorasan, istana mereka penuh dengan orang-orang terpelajar, itulah mengapa sangat cepat memengaruhi budaya yang ada di Asia Saghir (Habib, 2023). Warisan budaya dan intelektual ini memiliki implikasi ekonomi yang penting, karena mendukung pengembangan keahlian administratif dan teknis yang diperlukan untuk mengelola ekonomi yang kompleks.




Kesimpulan

Sistem perekonomian Daulah Saljuk merupakan sebuah konstruksi yang kompleks dan multidimensional, yang mencerminkan perpaduan antara tradisi nomadik Turki, warisan administratif Persia, dan prinsip-prinsip ekonomi Islam. Dari sistem iqta yang inovatif hingga jaringan karavanserai yang luas, dari regulasi pasar urban hingga institusi waqf yang mendukung layanan publik, Saljuk berhasil membangun sebuah sistem ekonomi yang mampu mendukung kekaisaran yang membentang dari Asia Tengah hingga Anatolia.

Keberhasilan ekonomi Saljuk tidak terlepas dari kemampuan mereka untuk mengintegrasikan berbagai tradisi dan sistem yang berbeda ke dalam satu kerangka yang kohesif. Mereka mewarisi dan mengembangkan tradisi administratif dari Ghaznavid dan Abbasiyah (HAMIDOVA, 2022), sambil menambahkan inovasi-inovasi mereka sendiri seperti sistem Gök Meydan dan Madrasah Nizamiyah (KEPOĞLU, 2019). Hasilnya adalah sebuah sistem ekonomi yang tidak hanya mampu mendukung kebutuhan militer dan administratif kekaisaran, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan perkembangan budaya yang signifikan.

Namun demikian, sistem ekonomi Saljuk juga mengandung kelemahan-kelemahan struktural yang pada akhirnya berkontribusi pada kemundurannya. Fragmentasi politik yang disebabkan oleh distribusi tanah kepada kerabat dan pejabat militer (HAMIDOVA, 2022), dikombinasikan dengan tekanan eksternal dari invasi Mongol (Karakök, 2021), mengakhiri era kejayaan ekonomi Saljuk. Meskipun demikian, warisan ekonomi Saljuk tetap hidup dalam sistem-sistem yang dikembangkan oleh Kekaisaran Ottoman (KUZAKÇI, 2022), yang mewarisi dan mengembangkan banyak institusi dan praktik ekonomi yang telah dirintis oleh Saljuk.

Dengan demikian, studi tentang sistem perekonomian Daulah Saljuk tidak hanya penting untuk memahami sejarah ekonomi Islam abad pertengahan, tetapi juga untuk memahami akar-akar dari sistem-sistem ekonomi yang berkembang di kawasan Timur Tengah dan Anatolia hingga era modern. Saljuk telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah ekonomi peradaban Islam, dan warisan mereka terus relevan bagi pemahaman kita tentang dinamika ekonomi dalam konteks sejarah yang lebih luas.




Daftar Pustaka

ALIÇ, S. (2022). Selçukluların Anadolu siyaseti ve birinci dönem Anadolu Türk beyliklerinin erken dönem Türkiye tarihindeki yeri. Gaziantep University Journal of Social Sciences, 21(4), 2517–2532. https://doi.org/10.21547/jss.1131134

Ahadi, N., Chaqmaq, S., & Quyash, M. (2024). Factors and consequences of the battle between the Seljuks and the Ghaznavids at Dandanqan. Cognizance Journal of Multidisciplinary Studies, 4(10), 158–170. https://doi.org/10.47760/cognizance.2024.v04i10.011

Akar, T. (2021). Pious foundations and preservation of buildings during Christianity and Islam in Anatolia. Ankara Üniversitesi Dil ve Tarih-Coğrafya Fakültesi Tarih Bölümü Tarih Araştırmaları Dergisi. https://doi.org/10.35239/tariharastirmalari.942329

Albayrak, E. (2023). Antik çağ'dan itibaren tarih boyunca kadının toplum içindeki yeri. Journal of Social Humanities and Administrative Sciences, 68(68), 3395–3407. https://doi.org/10.29228/joshas.72303

Alican, M. (2017). Some reflections of Kösedağ defeat in Arabic sources. History Studies International Journal of History, 9(3), 1–8. https://doi.org/10.9737/hist.2017.537

Atik, K. (2022). State formation in Central and West Asia during the 10th–13th centuries. Journal of Oriental Studies, 101(2), 127–134. https://doi.org/10.26577/jos.2022.v101.i2.13

BAYIR, D. M., & CİĞER, F. N. (2023). Selçuklularda vezirlik müessesesi. Bellek Uluslararası Tarih ve Kültür Araştırmaları Dergisi, 5(1), 14–29. https://doi.org/10.52735/bellek.1310769

Bulut, S. (2021). The history and function of sisterhood in Turkey: Bacıyan-ı Rum Organization in medieval era. Sawwa Jurnal Studi Gender, 16(1), 43–58. https://doi.org/10.21580/sa.v16i1.7591

Ebrahimi, M., Yusoff, K., Mohammed, S. L.-A., & Enh, A. M. (2015). The battle of Manzikert in 1071 A.D and its consequences to the Byzantine Empire. Umran – Journal of Islamic and Civilizational Studies, 2(1). https://doi.org/10.11113/umran2015.2n1.14

Fiorani, V. P. (2023). Historic-archaeological research of the Catholic University of the Sacred Heart of Milano on the Indus Delta (2019–2021). Istituto Lombardo - Accademia di Scienze e Lettere - Rendiconti di Lettere. https://doi.org/10.4081/lettere.2022.816

Foroozani, S. A. (2019). The influence of Amid-al-Mulk, Nizam al-Mulk and Imam Muhammad Ghazali's political performance and instructions on the decrease in authority of Abbasid Caliphate and the increase in authority of Seljuq Dynasty. Journal of Universal History Studies, 2(1), 120–133. https://doi.org/10.38000/juhis.523819

Franklin, K. (2021a). Everyday cosmopolitanisms. https://doi.org/10.1515/9780520380936

Franklin, K. (2021b). The Silk Road, medieval globality, and "everyday cosmopolitanism." 1–20. https://doi.org/10.1525/luminos.109.a

Franklin, K. (2021c). Traveling through Armenia: Caravan inns and the material experience of the Silk Road. 81–107. https://doi.org/10.1525/luminos.109.e

Gofur, A. (2023). History of the Salajiqoh Dynasty. Al-Jadwa Jurnal Studi Islam, 2(2), 208–222. https://doi.org/10.38073/aljadwa.v2i2.1034

Göksel, O., & Avcı, M. (2023). The dynamics of economic structure in the political and social systems of the Ottoman State: The example of Ahilik (confraternity) and guilds. Uluslararası Anadolu Sosyal Bilimler Dergisi, 7(1), 136–150. https://doi.org/10.47525/ulasbid.1228080

Güvemli, B. (2011). Development of the Merdiban method in the Ilkhanate State (1251–1353 A.D.) and its transition to the Ottoman State accountancy. De Computis - Revista Española de Historia de la Contabilidad, 8(14), 79–98. https://doi.org/10.26784/issn.1886-1881.v8i14.108

HAMIDOVA, N. P. (2022). The vizier institution in the ruling of the Great Seljuk Empire. Humanities Science Current Issues, 1(54), 34–39. https://doi.org/10.24919/2308-4863/54-1-4

Habib, H. (2023). Investigating the impact of Dari-Persian language in Asia of Saghir (Turkey). Randwick International of Education and Linguistics Science Journal, 4(2), 262–270. https://doi.org/10.47175/rielsj.v4i2.696

Howard, D. A. (2017). Why timars? Why now? Ottoman timars in the light of recent historiography. Turkish Historical Review, 8(2), 119–144. https://doi.org/10.1163/18775462-00802002

İhsanoğlu, E. (n.d.). Institutionalisation of science in the medreses of pre-Ottoman and Ottoman Turkey. 265–283. https://doi.org/10.1007/1-4020-3333-8_18

İnalcık, H. (2014). The Yörüks: Their origins, expansion and economic role. Cedrus, 2, 467–467. https://doi.org/10.13113/cedrus.201406472

Jamshid, R., & Moqimizade, Z. (2019). Analysis of the situation of Malek Mosque in Kerman and the necessity of restoration of this Seljuq building. Journal of Universal History Studies, 2(1), 49–61. https://doi.org/10.38000/juhis.524041

Karakök, T. (2021). An evaluation on the political and religious status in Anatolia in the XIIIth century. Ağrı İbrahim Çeçen Üniversitesi Sosyal Bilimler Enstitüsü Dergisi, 7(2), 169–184. https://doi.org/10.31463/aicusbed.877133

Kepoglu, A. (2020). Sky-squares and their management organization structure with military physical education and miscellaneous sports branches in the city structure of the Seljuk Empire. Journal of Advances in Sports and Physical Education, 3(9), 150–159. https://doi.org/10.36348/jaspe.2020.v03i09.002

KEPOĞLU, İ. G.-A. (2019). Büyük Selçuklu Devleti'nin iktisadi anlayışı ve Gök Meydan ve Spor Tekkesi kurumlarının eğitim yönetimi yapıları ve ekonomiye etkileri. Turkish Studies - Social Sciences, 14(4), 1499–1513. https://doi.org/10.29228/turkishstudies.22953

KHODJANIYAZOV, T., & Kurbanov, A. (2021). Beginning of Islam in Central Asia: The first mosque in Merv, Turkmenistan. Hacettepe Üniversitesi Türkiyat Araştırmaları Dergisi (Hütad). https://doi.org/10.20427/turkiyat.961413

KUZAKÇI, B. (2022). Ötüken'den Kırım'a Türk dünyası kültür tarihi. Bilig Journal of Social Sciences in Turkish World, (103), 211–233. https://doi.org/10.12995/bilig.10308

Lar, A. S. M., & Moradi, A. (2017). Aesthetical study of patterns and forms in the metalworks during Seljuk Dynasty. Journal of History Culture and Art Research, 6(3), 966. https://doi.org/10.7596/taksad.v6i3.946

Max, K. C. (1968). The origins and nature of Turkish power. Ankara Üniversitesi Dil ve Tarih-Coğrafya Fakültesi Tarih Bölümü Tarih Araştırmaları Dergisi, 0(10), 1. https://doi.org/10.1501/tarar_0000000388

Mensitova, G., Khabizhanova, G. B., Koshymova, A., & Omarbayev, Y. (2022). The migrations of the Oghuz in the early medieval period: Causes, directions and consequences. Asian and African Studies, 31(1), 102–123. https://doi.org/10.31577/aassav.2022.31.1.05

Morgan, D. (2011). Ann K.S. Lambton (1912–2008) and Persian studies. Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland, 21(1), 99–109. https://doi.org/10.1017/s1356186310000593

Pourmahmoud, S., Afhami, R., & Afshar, M. K. (2022). Study of sociological components on the evolution of pottery in the Seljuk period (5th to 6th century AH). Vestnik of Saint Petersburg University Arts, 12(4), 666–681. https://doi.org/10.21638/spbu15.2022.406

Saadati, M., Neyestani, J., Kouhpar, S. M. M., & NOBARI, A. H. (2021). İran'daki Selçuklu şehirlerinin mekansal yapısının incelenmesi ve analizi, örnek: Rey şehri. Türkiye Bilimler Akademisi Arkeoloji Dergisi, 211–224. https://doi.org/10.22520/tubaar.2021.28.011

Selçuk, İ. (2021). Ottoman market regulation and inspection in the early modern period. Adalya, (24), 355–373. https://doi.org/10.47589/adalya.1036731

SOLTANI, G., & REZAEI, D. (2019). The effects of interactions within communal conditions in Iran and Anatolia with Il Khānids over 13th and 14th centuries. The Turkish Online Journal of Design Art and Communication, 9(2), 159–177. https://doi.org/10.7456/10902100/009

Soydam, M., & Ateş, F. (2024). Adaptation problems of foreign students studying in secondary education institutions. Journal of Educational Issues, 10(1), 58. https://doi.org/10.5296/jei.v10i1.21720

Teng, J. (n.d.). Chapter 6: Abbasid golden age and Sung puzzle. https://doi.org/10.2478/9788376560595.c6

Untitled. (2021). Medieval Worlds, (14). https://doi.org/10.1553/medievalworlds_no14_2021

Şeker, B. Ş. (2023). The effects of the common history between Turks-Georgians in pre-second world war period on the future relations. Karadeniz Araştırmaları. https://doi.org/10.56694/karadearas.1384290